Detak Media — JAKARTA – Nilai tukar rupiah kembali menunjukkan penguatan terhadap dolar Amerika Serikat (USD) pada penutupan perdagangan Rabu, 5 Agustus 2026. Pada sore hari, rupiah ditutup menguat 94 poin atau 0,52% ke level Rp 17.933 per dolar AS, naik dari penutupan sebelumnya di Rp 18.027 per dolar AS.
Direktur PT. Traze Andalan Futures, Ibrahim Assuaibi, mengungkapkan bahwa penguatan rupiah dipicu oleh meredanya ketegangan di Timur Tengah. “Pasar merespon positif terhadap pernyataan Qatar pada hari Selasa bahwa para mediator telah mencapai kemajuan dalam upaya mengakhiri perang (AS-Iran) yang mendorong penurunan harga minyak dunia,” ujar Ibrahim dalam keterangannya, Rabu (5/8/2026).
Selain itu, pasar juga memantau data pasar tenaga kerja Amerika Serikat yang akan dirilis minggu ini untuk mendapatkan petunjuk lebih lanjut mengenai kebijakan suku bunga. Para pedagang menanti rilis data Perubahan Ketenagakerjaan ADP AS dan Nonfarm Payrolls (NFP) yang dijadwalkan pada Jumat, 7 Agustus.
Dari dalam negeri, rupiah menguat setelah Badan Pusat Statistik (BPS) melaporkan pertumbuhan ekonomi Indonesia mencapai 5,29% secara tahunan (year on year/YoY) pada kuartal II/2026. Besaran Produk Domestik Bruto (PDB) pada kuartal II/2026 atas dasar harga berlaku tercatat Rp 6.552,1 triliun, dan atas dasar harga konstan senilai Rp 3.576,2 triliun.
Pertumbuhan ekonomi pada triwulan II/2026 jika dibandingkan dengan triwulan I/2025 (year on year) tumbuh sebesar 5,29%. Sementara itu, jika dibandingkan dengan triwulan I/2026 (Q-to-Q), ekonomi tumbuh sebesar 3,73%, dan jika dibandingkan dengan semester I/2025 (C-to-C), PDB tumbuh sebesar 5,45%.
Ikuti Detak Media

Masuk dengan Google untuk ikut berkomentar.