Detak Media — JAKARTA – Nilai tukar rupiah berhasil menguat terhadap dolar Amerika Serikat pada penutupan perdagangan Kamis, 6 Agustus 2026. Rupiah ditutup menguat 10 poin atau 0,06% ke level Rp 17.923 per dolar AS, beranjak dari penutupan sebelumnya di Rp 17.933 per dolar AS.
Direktur PT. Traze Andalan Futures, Ibrahim Assuaibi, menjelaskan bahwa penguatan rupiah didorong oleh membaiknya sentimen pasar eksternal. Hal ini dipicu oleh pernyataan Iran yang telah mencapai kesepakatan dengan Oman mengenai lalu lintas di Selat Hormuz, jalur vital yang dilalui seperlima energi global.
Perkembangan tersebut berhasil meredakan kekhawatiran pasar mengenai potensi kenaikan inflasi Amerika Serikat. Kenaikan inflasi AS biasanya memengaruhi arah kebijakan moneter Federal Reserve.
“Prospek peningkatan lalu lintas kapal tanker melalui selat Hormuz meredakan sebagian kekhawatiran akan gangguan pasokan berkepanjangan yang sempat memicu lonjakan tajam harga minyak dalam beberapa minggu terakhir,” ungkap Ibrahim dalam keterangannya, Kamis (6/8/2026).
Selain itu, penurunan harga energi juga mendorong investor untuk menurunkan ekspektasi mereka terhadap pengetatan kebijakan lebih lanjut oleh Federal Reserve. “Penurunan harga energi mendorong investor untuk menurunkan ekspektasi mereka terhadap pengetatan kebijakan lebih lanjut oleh Federal Reserve,” lanjutnya.
Faktor lain yang turut mendongkrak rupiah adalah laporan ADP National Employment di AS. Laporan ini menunjukkan adanya perlambatan perekrutan di sektor swasta pada bulan Juli 2026, mengalihkan perhatian pasar ke laporan nonfarm payrolls yang akan datang.
Dari dalam negeri, penguatan rupiah berlanjut seiring dengan rilis pertumbuhan ekonomi Indonesia yang mencapai 5,29% secara tahunan (year-on-year). Angka ini sedikit melambat dibandingkan pertumbuhan 5,61% pada kuartal pertama 2026.
Ibrahim menambahkan, perhatian pelaku pasar pada bulan Agustus tidak hanya tertuju pada hasil peninjauan indeks MSCI, tetapi juga menantikan pengumuman FTSE Russell pada periode 10-14 Agustus 2026. “Terkait status pembekuan (freeze) Indonesia yang diperkirakan menjadi salah satu katalis penting bagi pasar saham dalam waktu dekat,” pungkasnya.
Ikuti Detak Media

Masuk dengan Google untuk ikut berkomentar.