— Nilai tukar rupiah kembali menghadapi tekanan beruntun. Menanggapi hal ini, Bank Indonesia (BI) berupaya mengoptimalkan bauran kebijakan moneter guna meredakan tekanan dan mengembalikan rupiah pada nilai fundamentalnya.

Berdasarkan data Bloomberg pada Rabu (29/7/2026) pukul 09.05 WIB di pasar spot exchange, rupiah tercatat dibuka melemah 26 poin atau 0,14% ke posisi Rp 18.109 per dolar Amerika Serikat.

Direktur Eksekutif Senior sekaligus Kepala Departemen Pengelolaan Moneter dan Aset Sekuritas BI, Erwin Gunawan Hutapea, menyatakan bahwa BI secara konsisten menjaga stabilitas sebagai prasyarat utama untuk mendukung pertumbuhan ekonomi yang berkelanjutan. Oleh karena itu, optimalisasi bauran kebijakan moneter dalam menjaga stabilitas nilai tukar rupiah terus ditingkatkan.

“Di tengah ketidakpastian global yang tinggi, stabilisasi nilai tukar Rupiah terus diperkuat sehingga konsisten mendukung pencapaian sasaran inflasi dan mendorong kegiatan ekonomi,” ujar Erwin dalam keterangannya pada Rabu (29/7/2026).

Erwin menambahkan, BI tidak hanya mengandalkan kebijakan suku bunga acuan atau BI-Rate, melainkan juga mempertajam instrumen moneter lainnya.

BI menjalankan strategi intervensi ganda yang meliputi Non-Deliverable Forward (NDF) di pasar luar negeri, serta transaksi spot dan Domestic Non-Deliverable Forward (DNDF) di pasar domestik. Selain itu, pembelian surat berharga negara (SBN) di pasar sekunder juga dilakukan.

“Lalu optimalisasi instrumen moneter seperti SRBI (Sekuritas Rupiah Bank Indonesia) yang didukung fasilitas insentif swap dan DNDF hedging, terus dioptimalkan untuk menjaga stabilitas nilai tukar sekaligus mendukung masuknya aliran modal asing,” jelas Erwin.

BI juga memperkuat strategi dalam menjaga kecukupan likuiditas pasar uang dan perbankan, di mana posisi SRBI diarahkan agar lebih terkendali.

“Ke depan, penerbitan SRBI terus diarahkan agar selaras dengan kebutuhan pengelolaan likuiditas dan mendukung masuknya aliran modal asing guna memperkuat stabilitas nilai tukar rupiah,” tutur Erwin.

Di sisi lain, Bank Indonesia terus mengoptimalkan berbagai instrumen kebijakan untuk mendukung pertumbuhan ekonomi. Implementasi Kebijakan Insentif Likuiditas Makroprudensial (KLM) akan terus diperkuat untuk mendorong pembiayaan kepada sektor-sektor prioritas. Penguatan mekanisme redistribusi likuiditas di sektor keuangan juga dilakukan agar transmisi pembiayaan menjadi lebih efektif.

“Selain itu, kebijakan digitalisasi sistem pembayaran juga terus diakselerasi sehingga makin mendorong pertumbuhan ekonomi,” terang Erwin.