— JAKARTA – Nilai tukar rupiah (IDR) diprediksi kembali mengalami pelemahan terhadap dolar Amerika Serikat (USD) menjelang akhir pekan pada Jumat, 31 Juli 2026. Pada penutupan perdagangan Kamis sore (30/7/2026), rupiah tercatat melemah 38 poin atau 0,21% ke posisi Rp 18.111 per dolar AS, turun dari penutupan sebelumnya di Rp 18.073 per dolar AS.

Direktur PT. Traze Andalan Futures, Ibrahim Assuaibi, memperkirakan mata uang rupiah akan bergerak fluktuatif namun cenderung melemah di kisaran Rp 18.110 hingga Rp 18.160 per dolar AS pada perdagangan hari ini. Ia menjelaskan bahwa prospek pelemahan rupiah dipengaruhi oleh sejumlah sentimen eksternal.

Sentimen eksternal tersebut meliputi ketegangan antara Amerika Serikat dan Iran di Timur Tengah, serta keputusan Federal Reserve yang mempertahankan suku bunga acuannya di level 3,50% hingga 3,75%. Ibrahim menyoroti pernyataan Ketua The Fed Kevin Warsh dalam konferensi pers yang menyebutkan bahwa pengetatan di pasar telah banyak membantu para pembuat kebijakan. Warsh menambahkan bahwa komite akan segera bertindak jika tekanan inflasi meningkat.

Sementara itu dari sisi domestik, rupiah juga diprediksi tertekan oleh ketidakpastian seputar suksesi kepemimpinan bank sentral, menyusul pengunduran diri Perry Warjiyo. Pelaku pasar juga tengah bersiap menyambut rilis data ekonomi domestik penting yang dijadwalkan pekan depan. Data tersebut mencakup inflasi Juli, neraca perdagangan Mei, cadangan devisa, Produk Domestik Bruto (PDB) kuartal kedua, serta Indeks Kepercayaan Konsumen (IKK).