— Sekitar 30 sistem fasilitas air di negara bagian Minnesota, Amerika Serikat (AS), menjadi sasaran serangan siber pada Minggu (26/7/2026) dan Senin (27/7/2026). Laporan media AS mengindikasikan keterlibatan kelompok peretas yang terafiliasi dengan pemerintah Iran.

Insiden ini sempat mengganggu pasokan air bersih di kota kecil Braham, wilayah perkotaan Minneapolis, selama sekitar dua jam sebelum layanan berhasil dipulihkan. Analisis dari perusahaan keamanan siber Tenable menunjukkan metode peretasan konsisten dengan pola kerja CyberAv3ngers, kelompok kejahatan siber yang dituduh beroperasi di bawah kendali Teheran.

Otoritas keamanan AS juga mencurigai keterlibatan peretas Iran, meskipun belum secara resmi menetapkan pihak yang bertanggung jawab. Peringatan dini mengenai potensi serangan terhadap infrastruktur vital AS dari organisasi yang berhubungan dengan Iran telah dikeluarkan oleh Badan Keamanan Siber dan Infrastruktur AS (CISA) pada 22 Juli 2026.

Biro Investigasi Federal (FBI) belum memberikan tanggapan resmi terkait insiden ini. Ancaman siber terhadap infrastruktur AS bukan kali pertama terjadi. Pada Maret 2026, kelompok Handala Hack, yang juga disinyalir beroperasi di bawah perintah pemerintah Iran, mengklaim bertanggung jawab atas serangan siber terhadap pemasok peralatan medis Stryker dan platform pembayaran digital Verifone. Pihak Stryker membenarkan insiden keamanan tersebut, sementara Verifone membantah klaim serangan pada sistem mereka.

Kelompok peretas menyatakan aksi siber ini merupakan bentuk balasan atas insiden pemboman sebuah sekolah dasar di Minab, Iran selatan. Peristiwa tersebut terjadi pada hari pertama serangan gabungan AS-Israel terhadap Republik Islam Iran pada 28 Februari 2026, yang menewaskan lebih dari 150 orang. Berdasarkan temuan investigasi internal militer AS, tragedi itu diduga kuat akibat kesalahan koordinat saat menyasar pangkalan militer di dekat sekolah.

Hubungan antara AS dan Iran terus berada dalam tensi tinggi pasca eskalasi militer dan keterlibatan serangan udara gabungan AS-Israel ke wilayah Iran pada akhir Februari 2026. Domain siber kini menjadi medan tempur sekunder yang krusial seiring meningkatnya konflik fisik. Kelompok-kelompok peretas yang didukung negara kerap menjadikan infrastruktur kritis seperti fasilitas pengolahan air, jaringan listrik, lembaga keuangan, dan pemasok medis sebagai sasaran untuk melancarkan aksi gangguan, sabotase, maupun aksi balasan geopolitik.