— JAKARTA – Nilai tukar Rupiah (IDR) diprediksi masih rentan terkoreksi terhadap Dolar Amerika Serikat (USD) pada Selasa, 4 Agustus 2026. Prediksi ini disampaikan oleh pengamat pasar keuangan.

Pada penutupan perdagangan Senin sore (3/8/2026), Rupiah tercatat menguat tipis 25 poin atau 0,14% ke level Rp 17.997 per dolar AS. Posisi ini lebih baik dibandingkan penutupan sebelumnya yang berada di Rp 18.022 per dolar AS.

“Mata uang Rupiah diperkirakan akan bergerak fluktuatif namun diprediksi mengalami pelemahan di rentang Rp 17.990 hingga Rp 18.040 per dolar AS untuk perdagangan besok,” ungkap Direktur PT. Traze Andalan Futures, Ibrahim Assuaibi, dalam keterangannya pada Senin (3/8/2026).

Ibrahim menjelaskan bahwa penguatan Rupiah pada perdagangan sebelumnya didorong oleh penurunan tajam harga minyak dunia yang mencapai lebih dari US$5 per barel pada awal perdagangan di Asia. Hal ini terjadi seiring meredanya kekhawatiran akan potensi gangguan pasokan dari Timur Tengah, terutama setelah muncul sinyal pembicaraan untuk membuka kembali Selat Hormuz menyusul meredanya ketegangan antara Amerika Serikat dan Iran.

Di sisi lain, Rupiah tetap rentan berubah arah. Pasar kini lebih memfokuskan perhatian pada prospek suku bunga Federal Reserve (The Fed) dan data ketenagakerjaan Amerika Serikat. Kedua faktor ini kerap menjadi penentu arah pergerakan mata uang global.

Sementara itu, sentimen positif dari kinerja manufaktur Indonesia turut memberikan dukungan bagi penguatan Rupiah. Laporan S&P Global Indonesia Manufacturing Purchasing Managers’ Index (PMI) Manufaktur Indonesia menunjukkan adanya ekspansi pada Juli 2026, dengan indeks naik ke level 50,2 dari posisi 46,9 pada Juni 2026.

Selain itu, Indonesia juga mencatat deflasi sebesar 0,14% secara bulanan (month to month/MtM) pada Juli 2026. Angka ini berbanding terbalik dengan bulan sebelumnya yang mencatat inflasi 0,44% pada Mei 2026. Secara tahunan, Indonesia mencatatkan inflasi sebesar 2,88% pada Juli 2026, berdasarkan data dari Badan Pusat Statistik.