— Ahli memprediksi harga emas dunia akan bergerak fluktuatif di sekitar level support US$ 3.836 dan berpotensi naik terbatas hingga resistance US$ 4.132 per troy ounce. Fluktuasi ini masih dibayangi oleh sentimen geopolitik yang terus membayangi pasar.

Pengamat pasar komoditas sekaligus Direktur PT Traze Andalan Futures, Ibrahim Assuaibi, menjelaskan bahwa dalam sepekan ke depan, harga emas kemungkinan besar akan diperdagangkan di level support pertama US$ 3.836 per troy ounce, dengan resistance di US$ 4.290 per troy ounce. “Kemudian dalam jangka pendek, support kedua harga emas di US$ 3.990 per troy ounce dan resistance keduanya di US$ 4.132 per troy ounce,” katanya.

Ibrahim memaparkan beberapa faktor yang mempengaruhi fluktuasi harga emas. Salah satunya adalah isu geopolitik di Timur Tengah, kondisi perpolitikan di Amerika Serikat, kebijakan moneter Federal Reserve, serta ketersediaan dan permintaan logam mulia.

“Kita melihat bahwa permasalahan geopolitik di Timur Tengah terus dijadikan sebagai acuan terhadap memanasnya harga minyak dunia. Amerika Serikat dan Israel dilaporkan sedang mempersiapkan pengeboman besar-besaran terhadap infrastruktur energi Iran minggu depan,” ungkap Ibrahim.

Dia menambahkan, hingga saat ini Laut Merah masih diblokade, yang berperan sebagai salah satu jalur transportasi untuk minyak mentah di Arab Saudi. Transportasi di Selat Hormuz juga masih terbatas.

Di Amerika Serikat, isu politik bermunculan menyusul laporan bahwa Senat menerima proposal untuk anggaran perang sebesar US$ 95 miliar, yang akan menjadi pembahasan di DPR AS sepekan ke depan.

Pergerakan harga emas dunia pekan depan juga bakal dipengaruhi oleh kebijakan moneter Federal Reserve (The Fed). Hal ini menyusul rilis data inflasi AS di bulan Juni 2026 yang menunjukkan sedikit perlambatan, seiring penurunan harga minyak global buntut pembukaan Selat Hormuz.

“Tetapi kita melihat bahwa di bulan Juli kemungkinan besar harga minyak akan kembali naik sehingga mendorong inflasi lebih tinggi. Jadi ada indikasi bank sentral Amerika Serikat masih akan mempertahankan suku bunga, meski beberapa presiden bank sentral memilih untuk menaikkan suku bunga 25 basis poin karena melihat kondisi pasar yang terus berfluktuasi akibat naiknya harga minyak mentah,” paparnya.

Dari sisi ketersediaan dan permintaan (supply dan demand), Ibrahim mengutip data dari World Gold Council (WGC). Data tersebut mencatat bahwa permintaan emas secara global di semester pertama 2026 relatif tidak berubah dibandingkan dengan tahun sebelumnya, yaitu sebesar 1.269 ton.

Kuatnya permintaan emas tahun ini dinilai berpeluang menjadi katalis yang mendukung harga logam mulia dalam jangka menengah.