— Harga emas saat ini tertahan di kisaran US$ 4.000 per troy ounce dalam beberapa pekan terakhir. Pada perdagangan Selasa (4/8/2026), harga emas spot ditutup naik 0,55% menjadi US$ 4.077,48 per troy ounce.

Meskipun belum mengalami lonjakan signifikan dari level US$ 4.000 per troy ounce, para analis di perusahaan investasi Jefferies memprediksi harga emas masih memiliki potensi untuk bergerak naik pada tahun depan. Pasar emas sempat mengalami perlambatan setelah konflik antara Amerika Serikat dan Iran memicu penutupan Selat Hormuz, yang mengganggu pasokan minyak dunia.

Konflik yang berkepanjangan ini, ditambah krisis energi global, telah menjaga harga minyak tetap tinggi dan menimbulkan kekhawatiran baru akan inflasi. Akibatnya, pasar mulai memperhitungkan kemungkinan dua kali kenaikan suku bunga tahun ini, dengan kenaikan pertama diperkirakan terjadi pada bulan September.

Federal Reserve memperkuat ekspektasi pasar ini setelah tiga anggota komite memberikan suara untuk menaikkan suku bunga menyusul pertemuan kebijakan moneter bulan Juli 2026. “Suku bunga riil yang lebih tinggi meningkatkan biaya peluang dalam memegang emas, dan ketika perubahan terjadi secara mendadak, harga emas akan turun tajam. Dalam kasus ini, perubahan mendadak dalam ekspektasi suku bunga, dari perkiraan awal tahun 2026 yang memprediksi 1-2 kali penurunan suku bunga telah menyebabkan harga emas turun sekitar 25% dari level puncaknya,” ujar para analis di Jefferies.

Namun, para analis tersebut melihat prospek harga emas dalam 12 bulan ke depan akan berbeda. Mereka mencatat bahwa saham perusahaan tambang emas menunjukkan pola pemulihan yang menarik setelah periode fluktuasi. “Faktor kuncinya bukan sekadar apakah suku bunga riil telah bergerak naik, melainkan apakah tekanan akibat suku bunga riil tersebut mereda setelahnya,” jelas mereka.

Terlepas dari potensi risiko penurunan harga, analis di Jefferies relatif optimistis terhadap harga emas di akhir tahun ini. Perusahaan tersebut mencatat bahwa baik harga emas maupun saham perusahaan emas telah mengalami penyesuaian yang signifikan, mengindikasikan bahwa sebagian besar koreksi harga telah terjadi. Ke depannya, arah ekspektasi suku bunga riil dinilai lebih penting daripada tingkat absolutnya.

Para analis juga menyoroti bahwa harga emas ditentukan oleh berbagai faktor, tidak hanya sentimen suku bunga riil. “Aksi beli bank sentral, ketidakpastian geopolitik, kekhawatiran fiskal, dedolarisasi, dan alokasi pada aset fisik merupakan faktor-faktor pendukung yang penting. Pasar suku bunga saat ini cenderung mengarah pada kebijakan yang lebih ketat, dengan suku bunga implisit yang meningkat hingga tahun 2027 dan probabilitas kenaikan suku bunga yang tinggi,” beber analis di Jefferies.

“Namun, situasi ini bisa berubah dengan cepat jika konflik AS-Iran terselesaikan. Data historis menunjukkan bahwa ketika tekanan suku bunga riil mereda, harga emas dan saham perusahaan emas cenderung naik,” ungkap para analis tersebut.