Detak Media — Pasar saham Wall Street baru saja melewati salah satu pekan paling krusial. Selain dipadati oleh rilis laporan keuangan kuartal ketiga, mata para investor global tertuju pada pengumuman kebijakan suku bunga oleh bank sentral Amerika Serikat, The Federal Reserve (The Fed).
Namun, pengumuman pada 29 Juli 2026 justru menjadi awal kejutan besar. Keputusan The Fed untuk mempertahankan suku bunga acuan malah memicu kemerosotan tajam pada tiga indeks utama: Dow Jones Industrial Average, S&P 500, dan Nasdaq Composite. Bahkan, indeks Dow Jones mencatatkan penurunan harian terburuknya dalam lebih dari satu tahun terakhir.
Di balik merosotnya pasar saham, pertemuan Federal Open Market Committee (FOMC) kali ini mengukir sejarah kelam yang belum pernah terjadi lagi dalam 56 tahun terakhir di institusi keuangan tertinggi AS tersebut.
Internal The Fed Terbelah
Memimpin kebijakan moneter AS memang tidak pernah mudah. Ketua Dewan Gubernur The Fed yang baru Kevin Warsh, pilihan Presiden AS Donald Trump untuk menggantikan Jerome Powell, resmi menjabat di tengah situasi ekonomi yang amat menantang.
Inflasi tahunan AS melonjak hingga 4,2% pada Mei 2026, posisi tertinggi dalam tiga tahun. Angka ini dipicu oleh kombinasi kebijakan tarif impor Trump serta lonjakan harga bahan bakar akibat konflik dengan Iran.
Namun, tantangan terbesar Warsh justru datang dari dalam internalnya sendiri. Keputusan untuk menahan suku bunga pada 29 Juli 2026 tidak dicapai secara bulat. Tiga anggota FOMC yaitu Beth Hammack, Neel Kashkari, dan Lorie Logan secara terbuka mengajukan penolakan (dissent) dan mendesak kenaikan suku bunga sebesar 25 basis poin (0,25%).
Perpecahan ini menciptakan dua rekor sejarah. Pertama kali sejak September 2016 terdapat tiga anggota yang menolak keputusan akhir dan memilih arah kebijakan yang sama, yaitu menginginkan kenaikan suku bunga. Kedua, ini pertama kali sejak 1970 seorang Ketua The Fed baru menghadapi penolakan sebanyak ini di awal masa jabatannya.
Dilema Bagi Wall Street: Maju Kena, Mundur Kena
Ketiadaan kekompakan di tubuh The Fed menjadi alarm berbahaya bagi Wall Street. Kepercayaan pasar terhadap The Fed sebagai pilar stabilitas ekonomi berisiko tergerus jika keretakan ini berlarut-larut.
Di sisi lain, perpecahan internal ini bersamaan dengan naiknya imbal hasil (yield) obligasi pemerintah AS jangka panjang memperbesar peluang bahwa The Fed pada akhirnya harus menaikkan suku bunga demi menekan inflasi.
Jika suku bunga benar-benar naik, biaya pinjaman akan membengkak. Hal ini berpotensi memperlambat investasi besar-besaran pada infrastruktur kecerdasan buatan (Artificial Intelligence/ AI), sektor utama yang selama ini menjadi penggerak naik puncaknya indeks Dow Jones, S&P 500, dan Nasdaq.
Kini pasar saham berada di posisi serba salah. Jika The Fed memilih diam di tengah perpecahan, pasar kehilangan arah. Namun, jika The Fed bertindak menaikkan suku bunga, laju pasar saham berisiko tertahan.
Federal Open Market Committee (FOMC) adalah badan di dalam sistem The Fed yang bertanggung jawab menentukan arah kebijakan moneter AS, termasuk penetapan suku bunga acuan dan pengaturan jumlah uang beredar. Keputusan FOMC memengaruhi iklim investasi global, nilai tukar mata uang, hingga laju inflasi dunia.
Di bawah kepemimpinan Jerome Powell sebelumnya, The Fed dikenal solid dengan tingkat perbedaan pendapat (dissent) terendah sejak era 1970-an. Kesolidan ini menjadi jangkar kepastian bagi para pelaku pasar modal. Transisi kepemimpinan ke Kevin Warsh di tengah ketegangan geopolitik dan tekanan inflasi kini menguji kembali independensi serta efektivitas The Fed dalam menjaga keseimbangan ekonomi AS.
Ikuti Detak Media

Masuk dengan Google untuk ikut berkomentar.