Detak Media — JAKARTA – Lonjakan harga bahan bakar minyak (BBM) akibat eskalasi perang di Timur Tengah mendorong peningkatan drastis pada penjualan mobil listrik (electric vehicle/EV) secara global pada kuartal II-2026. Badan Energi Internasional (IEA) melaporkan penjualan EV melonjak hingga 35% dibandingkan kuartal sebelumnya, sekaligus memecahkan rekor penjualan di 50 negara.
Dalam laporannya, IEA menyatakan bahwa di tengah situasi pasar otomotif global yang penuh tantangan, penjualan mobil listrik mengalami lonjakan tajam pada kuartal kedua tahun ini. Krisis energi yang dipicu oleh perang di Timur Tengah kembali menyoroti tingginya volatilitas harga BBM.
Kenaikan harga BBM ini dipicu oleh melonjaknya harga minyak mentah dunia dari sekitar US$ 60 per barel pada awal tahun menjadi hampir US$ 120 per barel. Lonjakan ekstrem terjadi setelah Iran secara efektif menutup Selat Hormuz, jalur perdagangan vital yang dilalui seperlima pasokan minyak dunia, sebagai respons atas serangan yang diluncurkan Israel dan Amerika Serikat pada Februari 2026.
Krisis pasokan dan tingginya harga minyak menempatkan isu ketahanan energi sebagai prioritas utama dunia. Mengingat sektor transportasi darat mengonsumsi separuh dari total penggunaan minyak global, mobil listrik kini menjadi solusi strategis untuk mengurangi ketergantungan terhadap impor bahan bakar fosil.
IEA menjelaskan bahwa mobil listrik kini menjadi pusat perhatian sebagai salah satu langkah kebijakan potensial. EV menawarkan peluang untuk memperkuat ketahanan energi bagi negara-negara pengimpor minyak, sekaligus melindungi konsumen dan pelaku usaha dari gejolak harga BBM. Untuk meredam dampak krisis, sejumlah negara pengimpor minyak di Asia Tenggara bahkan meluncurkan insentif pemotongan pajak sementara untuk mendorong masyarakat beralih ke EV.
Memanfaatkan momentum pertumbuhan di kuartal kedua serta dukungan pemerintah di Asia Tenggara, Amerika Latin, dan Eropa, IEA memproyeksikan total penjualan mobil listrik sepanjang tahun ini akan tumbuh 10% dan mencakup 29% dari total penjualan mobil secara keseluruhan. Proyeksi positif EV ini terjadi di tengah prediksi melemahnya pasar otomotif konvensional secara global pada 2026.
Sebelumnya, penjualan EV sempat merosot tajam pada kuartal I-2026 akibat penurunan permintaan di dua pasar terbesar dunia, yaitu China dan AS. Di AS, pencabutan subsidi menekan angka penjualan, sementara di China perlambatan ekonomi dan pemangkasan insentif menahan minat pembeli. Kendati demikian, lonjakan tajam di wilayah lain, terutama Eropa yang mencatatkan pertumbuhan penjualan EV lebih dari 30% pada paruh pertama tahun ini, telah berhasil memulihkan tren pertumbuhan global.
Selat Hormuz, yang terletak di antara Teluk Persia dan Teluk Oman, merupakan salah satu jalur kemacetan strategis (chokepoint) logistik energi terpenting di dunia. Setiap hari, puluhan juta barel minyak mentah melintasi selat sempit ini untuk memenuhi kebutuhan energi global, terutama ke negara-negara pengimpor utama di Asia dan Eropa. Penutupan atau gangguan keamanan di Selat Hormuz secara historis selalu memicu efek domino berupa lonjakan harga minyak mendadak (oil shock).
Gejolak harga BBM akibat konflik geopolitik kali ini menjadi katalis penting yang mempercepat transisi energi di sektor otomotif. Jika sebelumnya adopsi EV didorong oleh isu perubahan iklim dan emisi karbon, krisis Timur Tengah membuktikan elektrifikasi transportasi kini telah bergeser menjadi instrumen vital ketahanan nasional dan stabilitas ekonomi bagi negara-negara non-produsen minyak.
Ikuti Detak Media

Masuk dengan Google untuk ikut berkomentar.