Detak.media — JAKARTA, investor.id – Saham PT Bank Rakyat Indonesia Tbk (BBRI) menjadi salah satu pilihan utama untuk perdagangan pada Senin (20/7/2026). KB Valbury Sekuritas merilis analisisnya yang menyoroti potensi keuntungan bagi investor yang ingin melakukan trading saham BBRI.
KB Valbury Sekuritas memberikan rekomendasi trading buy untuk saham BBRI. Untuk aktivitas trading harian, perusahaan sekuritas ini menetapkan target harga di Rp 3.030. Investor disarankan untuk melakukan entry price pada kisaran Rp 2.870-2.970.
Secara teknikal, level resistance atau batas atas pergerakan harga saham BBRI berada di Rp 3.030, sementara level support atau batas bawahnya adalah Rp 2.870. KB Valbury Sekuritas mengingatkan investor untuk waspada jika harga menembus Rp 2.870 dan menyarankan untuk melakukan stop loss di level Rp 2.710.
Pada penutupan perdagangan Jumat (17/7/2026), saham BBRI tercatat menguat 3,8% ke level Rp 2.970. Dalam sepekan terakhir, saham ini telah menguat 6,4%, namun dalam sebulan terakhir mengalami koreksi 0,6%. Secara year to date (ytd), saham BBRI tercatat melemah 18,8%.
KB Valbury Sekuritas mempertahankan rekomendasi buy saham BBRI dengan target harga jangka panjang yang dihitung menggunakan Gordon Growth Model (GGM) sebesar Rp 4.010. Angka ini mengindikasikan potensi keuntungan (cuan) saham BBRI masih sangat signifikan, yaitu sekitar 35%.
Target harga tersebut setara dengan valuasi price to book value (P/B) sebesar 1,8 kali untuk proyeksi tahun 2026. Saat ini, saham BBRI diperdagangkan pada valuasi yang dianggap sangat murah, yaitu P/B 2026 sebesar 1,2 kali, atau sedikit di bawah level -2 standar deviasi (-2SD) yang tercatat sebesar 1,5 kali.
Beberapa katalis positif berpotensi mendorong saham BBRI ke depan. Di antaranya adalah pertumbuhan kredit yang diprediksi lebih tinggi dari ekspektasi. Hal ini, ditambah dengan penyesuaian ulang imbal hasil kredit secara moderat, dapat membantu net interest margin (NIM) melampaui panduan yang ditetapkan untuk tahun 2026.
Selain itu, potensi cost of credit (CoC) yang lebih rendah dari perkiraan, seiring dengan perbaikan kualitas aset, diperkirakan akan menjadi faktor penting dalam mendorong pertumbuhan laba BRI (BBRI) di tahun 2026. Potensi pendapatan non-bunga yang lebih kuat juga diperkirakan dapat menjadi katalis utama bagi pertumbuhan pre-provision operating profit (PPOP).
Namun, terdapat pula risiko utama yang perlu diwaspadai. Risiko tersebut meliputi pertumbuhan kredit yang lebih lemah dari perkiraan, rasio biaya terhadap pendapatan yang lebih tinggi dari perkiraan, serta kenaikan pencadangan yang jauh lebih besar dari estimasi. Sentimen negatif domestik yang berlanjut dan tekanan terhadap nilai tukar rupiah juga berpotensi terus menekan sentimen pasar terhadap saham BBRI.
Ikuti Detak.media
