— TEHERAN – Pemerintah Iran menegaskan kesiapannya menghadapi segala bentuk ancaman dari negara lawan. Menteri Pertahanan Sementara Iran, Brigadir Jenderal Majid Ebn-e-Reza, menyatakan bahwa seluruh ancaman dari musuh dianggap sebagai bahaya nyata yang wajib ditanggapi secara serius.

Pernyataan tegas ini disampaikan Ebn-e-Reza melalui unggahan di akun media sosial pribadinya. “Pernyataan musuh baru-baru ini, meskipun disampaikan dalam kerangka operasi psikologis dan perang kognitif, tetap kami pandang sebagai ancaman nyata dan kredibel,” tulis Ebn-e-Reza seperti dikutip Anadolu, Senin (3/8/2026).

Ia menekankan bahwa Iran tidak akan bersikap pasif atau melonggarkan pertahanannya. Sebaliknya, gertakan tersebut justru dijadikan momentum bagi militer Iran untuk makin memoles kekuatan. “Kami menjadikan setiap ancaman sebagai dasar untuk meningkatkan kesiapsiagaan, memperkuat daya cegah (deterrence), dan mengembangkan kemampuan pertahanan kami,” tegasnya.

AS Batal Serang, Iran Tetap Siaga

Sikap keras dari jajaran petinggi Iran ini muncul setelah Presiden AS Donald Trump memutuskan membatalkan rencana serangan terhadap fasilitas infrastruktur energi Iran. Langkah AS tersebut diambil setelah menerima peringatan tajam dari Iran bahwa setiap bentuk agresi baru, baik dari AS maupun Israel, akan dibalas tanpa kompromi.

Senada dengan Menteri Pertahanan, Menteri Luar Negeri Iran Abbas Araghchi juga menyampaikan ketegasannya saat berkomunikasi dengan Menlu Arab Saudi, Faisal bin Farhan, pada Sabtu malam (1/8/2026). Araghchi menegaskan bahwa Iran berada dalam posisi sangat siap untuk menjaga kedaulatan, integritas wilayah, dan keamanan nasionalnya.

Ia bahkan melontarkan peringatan terbuka kepada negara-negara di kawasan agar tidak mencoba membantu pihak musuh. “Setiap tindakan permusuhan oleh AS atau Israel, maupun keterlibatan dan kerja sama dari negara-negara kawasan dalam tindakan semacam itu, akan mendapat respons tegas serta proporsional dari Angkatan Bersenjata Iran,” ujar Araghchi.

Ketegangan di kawasan Timur Tengah kian memuncak seiring meningkatnya gesekan geopolitik antara Iran, Amerika Serikat, dan Israel. Selama beberapa tahun terakhir, Iran secara konsisten memperkuat program rudal dan pertahanan udaranya sebagai antisipasi terhadap ancaman serangan militer luar.

Saling gertak melalui perang psikologis dan retorika politik kerap menjadi bagian dari strategi diplomasi berisiko tinggi (brinkmanship) yang dimainkan oleh kedua pihak. Kendati diplomasi balik layar dan tekanan internasional beberapa kali berhasil mencegah terjadinya konfrontasi militer secara terbuka, kesiapsiagaan tinggi armada pertahanan Iran menunjukkan situasi keamanan di kawasan tersebut masih sangat rentan dan dapat meletus sewaktu-waktu.