— Eskalasi militer di Timur Tengah kembali meluas setelah Iran meluncurkan rentetan rudal balistik ke markas militer Amerika Serikat di Yordania. Bersamaan dengan itu, pasukan gabungan Amerika Serikat dan Arab Saudi melancarkan serangan udara terhadap kelompok milisi pro-Iran di Irak.

Aksi balasan lintas batas ini mengakhiri jeda pertempuran singkat dan mengancam seruan gencatan senjata yang sedang diupayakan para diplomat internasional, menurut laporan Associated Press.

Garda Revolusi Iran (IRGC) mengonfirmasi peluncuran rudal ke Pangkalan Udara Muwaffaq Salti di Yordania, yang menjadi pusat pangkalan militer AS. Pihak militer Yordania menyatakan kelima rudal berhasil dicegat dan dihancurkan sebelum menimbulkan korban jiwa.

Sebagai balasan atas serangan terhadap fasilitas minyak Arab Saudi, jet tempur AS dan Arab Saudi menggempur markas milisi Popular Mobilization Forces (PMF) di Irak timur. Menurut pejabat setempat, serangan tersebut menewaskan sedikitnya 20 milisi dan enam penasihat militer asal Iran. Pemerintah Irak mengutuk keras serangan gabungan tersebut dan menilainya sebagai pelanggaran berat terhadap kedaulatan negara.

Ketegangan juga meluas ke wilayah Afrika Utara setelah dua kapal gas alam cair (LNG) di Pelabuhan Damietta, Mesir, diserang drone. Presiden AS Donald Trump menanggapi potensi keterlibatan Iran dalam insiden di Mesir tersebut dengan tegas, “Kami akan membalas mereka dengan sangat keras karena sekarang giliran kami untuk menyerang,” ujar Trump di Gedung Putih.

Pasokan Energi Global Terancam

Konflik yang meluas ini secara langsung kembali mengguncang pasar komoditas. Harga minyak mentah dunia jenis Brent melesat 7,3% ke level US$ 88,09 per barel. Selain penutupan akses Selat Hormuz oleh Iran, setelah Iran menolak usulan Oman terkait pengelolaan bersama lalu lintas kapal, kelompok Houthi di Yaman juga mengumumkan blokade di Selat Bab el-Mandeb.

Citra satelit Planet Labs menunjukkan kerusakan pada fasilitas pengolahan minyak Abqaiq milik Saudi Aramco serta kilang minyak di Jazan akibat serangan drone Houthi. Para diplomat dan mediator regional mengondisikan peluang deeskalasi kini kian tipis mengingat kedua belah pihak terus bertukar serangan tanpa ada indikasi untuk mundur.

Eskalasi militer di Timur Tengah yang melibatkan AS, Iran, serta sekutu regional masing-masing telah memasuki bulan kelima dan memicu krisis energi global. Selat Hormuz dan Selat Bab el-Mandeb merupakan dua jalur kemacetan (chokepoint) maritim paling krusial di dunia yang menjadi urat nadi distribusi minyak mentah serta gas alam cair internasional.

Gangguan keamanan yang meluas hingga ke fasilitas pengolahan minyak di Arab Saudi dan pelabuhan di Mesir memicu kekhawatiran meluasnya perang secara terbuka (all-out war) yang berpotensi memicu resesi ekonomi global.