— JAKARTA – Iran dan Oman dilaporkan semakin dekat untuk mencapai kesepakatan mengenai pemulihan lalu lintas pelayaran komersial di Selat Hormuz. Laporan The New York Times pada Selasa (4/8/2026), mengutip pejabat Iran dan Amerika Serikat (AS), menyebutkan bahwa negosiasi ini diharapkan dapat membuka kembali akses navigasi bagi kapal-kapal dagang di kawasan strategis tersebut.

Dalam skema yang sedang dibahas, pengaturan lalu lintas kapal akan dibagi dua. Kapal kargo dan tanker yang menuju Teluk Persia diwajibkan melintas melalui jalur pelayaran di bawah kendali Iran, dekat dengan garis pantainya. Sementara itu, kapal yang keluar dari Teluk akan menggunakan jalur perairan dekat Oman.

Pejabat Iran menjelaskan bahwa skema ini tidak menerapkan sistem pungutan tol secara langsung, namun mencantumkan pemberlakuan biaya layanan (service fee). Biaya ini diklaim untuk menutupi dampak lingkungan, operasional keamanan armada kargo, serta biaya penyiagaan personel. Hasil dari pungutan biaya layanan tersebut rencananya akan dibagi rata antara Teheran dan Muscat.

Menanggapi laporan tersebut, seorang pejabat AS membantah klaim Iran dan menyebutnya tidak akurat. Pihak AS menegaskan bahwa setiap jalur pelayaran sementara di Selat Hormuz tidak memerlukan izin dari pemerintah Iran, serta tidak boleh dipungut biaya tol maupun pajak dalam bentuk apa pun.

Rencana kesepakatan ini juga memicu penolakan dan keraguan dari kalangan internal kedua negara. Sejumlah pejabat senior Pentagon di Washington bersikap skeptis karena khawatir langkah tersebut akan dinilai publik sebagai bentuk kompromi atau konsesi kepada Iran. Di sisi lain, kekhawatiran serupa juga muncul dari internal Iran, di mana beberapa pejabat mempertanyakan efektivitas skema tersebut dalam mencegah potensi serangan militer susulan dari AS.

Selat Hormuz merupakan salah satu jalur lalu lintas maritim paling krusial di dunia (chokepoint), yang dilalui sekitar seperlima dari total pasokan minyak mentah global. Gangguan pada keamanan navigasi di selat ini berpotensi besar memicu lonjakan harga energi dunia dan melumpuhkan rantai pasok logistik internasional.

Eskalasi di Selat Hormuz memuncak seiring ketegangan militer antara Iran dengan AS dan sekutunya dalam beberapa bulan terakhir. Setelah serangkaian aksi saling serang dan kegagalan implementasi memorandum perdamaian, Iran mengancam akan memperketat kontrol dan menjadikannya sasaran penembakan terhadap kapal yang dianggap melintas secara ilegal atau tanpa izin.

Langkah diplomasi bersama Oman, yang dikenal sebagai mediator netral di kawasan Teluk, menjadi upaya krusial untuk mencegah krisis ekonomi global yang lebih dalam. Namun, perbedaan pandangan yang tajam antara Iran dan AS membuat kepastian operasional jalur pelayaran di Selat Hormuz masih dibayangi ketidakpastian.