— Realisasi investasi di Kawasan Ekonomi Khusus (KEK) mencapai Rp32 triliun pada semester I-2026, dengan mayoritas berasal dari penanaman modal asing (PMA) sebesar Rp24 triliun. Sementara itu, penanaman modal dalam negeri (PMDN) menyumbang Rp8 triliun. Investasi ini turut berkontribusi dalam penciptaan 34.162 lapangan kerja baru.

Sekretaris Kementerian Koordinator Bidang Perekonomian sekaligus Ketua Tim Pelaksana Dewan Nasional KEK, Susiwijono Moegiarso, menekankan pentingnya menjaga iklim investasi yang kondusif. Ia menyatakan bahwa kepercayaan investor tidak hanya bergantung pada insentif, tetapi juga pada kepastian regulasi, kecepatan penyelesaian hambatan, serta komunikasi yang konsisten antara pemerintah dan dunia usaha.

Secara kumulatif, sejak tahun 2012 hingga 28 Juli 2026, total realisasi investasi di KEK telah mencapai Rp368 triliun. Angka ini berasal dari 444 badan usaha dan pelaku usaha, serta berhasil menyerap tenaga kerja sebanyak 283.234 orang.

Dewan Nasional KEK terus berupaya memperkuat arah strategis pengembangan kawasan untuk meningkatkan daya saing investasi nasional. Penguatan ini mencakup pengembangan ekosistem hilirisasi industri, seperti yang terlihat di KEK Galang Batang yang mengintegrasikan produksi bauksit, smelter grade alumina (SGA), hingga aluminium ingot. Selain itu, pengembangan ekonomi digital melalui pusat data, kecerdasan buatan (AI), dan konektivitas internasional, termasuk pengoperasian kabel bawah laut Nongsa–Changi Cable, juga menjadi fokus.

KEK juga dikembangkan sebagai pusat pertumbuhan baru di sektor pariwisata, pendidikan, dan pengembangan sumber daya manusia. Hal ini diwujudkan melalui peningkatan kunjungan wisatawan di KEK pariwisata, kolaborasi KEK Singhasari dengan King’s College London, serta pengembangan talenta industri melalui kerja sama dengan Kementerian Ketenagakerjaan yang didukung alokasi anggaran Rp6,26 triliun untuk program pelatihan vokasi dan kesiapan tenaga kerja.

Pelaksana Tugas (Plt) Sekretaris Jenderal Dewan Nasional KEK, Rizal Edwin Manansang, menambahkan bahwa KEK terus memperkuat perannya sebagai kontributor transformasi ekonomi nasional. “Capaian strategis periode ini mencakup penguatan hilirisasi industri, advanced manufacturing, layanan kesehatan internasional, hingga penyiapan ekosistem energi hijau yang berkelanjutan,” tutur Rizal.

Komitmen ini direalisasikan melalui berbagai rencana pengembangan strategis. KEK Gresik, misalnya, menarik rencana investasi US$600 juta dari PT GEABH Joint Technology untuk pembangunan pabrik melamin pertama dan terbesar di Indonesia. Sementara itu, PT Evyap Sabun Indonesia di KEK Sei Mangkei telah merealisasikan investasi US$130 juta di sektor hilirisasi kelapa sawit.

Di sektor manufaktur, KEK Kendal memulai pembangunan pabrik PT Hoi Fu senilai Rp1,12 triliun yang berpotensi menyerap sekitar 1.000 tenaga kerja. KEK Industropolis Batang juga memperkuat pengembangan energi hijau melalui penandatanganan dua nota kesepahaman dengan investor Hungaria.

Rizal Edwin Manansang menjelaskan bahwa arah pengembangan KEK selanjutnya akan mengedepankan pendekatan yang lebih menyeluruh, tidak hanya berorientasi pada nilai investasi, tetapi juga memastikan dampaknya bagi perekonomian nasional dan daerah sekitar kawasan.

Wakil Ketua II Tim Pelaksana Dewan Nasional KEK, Budi Santoso, menambahkan bahwa keberhasilan KEK tidak hanya diukur dari besarnya investasi, tetapi juga dari kontribusinya terhadap penciptaan lapangan kerja, peningkatan nilai tambah, dan manfaat bagi masyarakat. “Oleh karena itu, insentif ke depan akan semakin berbasis pada hasil dan dievaluasi secara disiplin,” terang Budi.

Sebagai langkah konkret, pemerintah akan mendorong indikator evaluasi yang disesuaikan dengan tema kawasan. Untuk KEK industri, fokusnya adalah nilai ekspor dan produktivitas. KEK pariwisata akan diukur dari jumlah kunjungan wisatawan dan pertumbuhan UMKM, sedangkan KEK digital akan dinilai dari penyerapan tenaga kerja terampil. Pendekatan ini diharapkan memberikan gambaran yang lebih utuh mengenai kontribusi setiap KEK terhadap perekonomian nasional.