— JAKARTA – Nilai impor Indonesia sepanjang semester I-2026 tercatat sebesar US$ 137,24 miliar. Angka ini menunjukkan pertumbuhan kumulatif sebesar 18,69% dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya. Kenaikan signifikan ini terutama didorong oleh lonjakan impor minyak dan gas (migas) sebesar 38,71%, yang mencapai US$ 22,00 miliar, serta impor nonmigas yang meningkat 15,50% menjadi US$ 115,23 miliar.

Menteri Perdagangan (Mendag), Budi Santoso, menjelaskan bahwa struktur impor nasional masih didominasi oleh bahan baku dan barang penolong. Komponen ini menyumbang porsi terbesar, yaitu 71,37% dari total nilai impor pada semester pertama tahun 2026. Diikuti oleh barang modal yang mencapai 19,94%, dan barang konsumsi sebesar 8,69%.

“Komposisi tersebut menunjukkan bahwa impor Indonesia masih didominasi oleh kebutuhan untuk mendukung aktivitas produksi dan investasi,” ujar Mendag Budi Santoso dalam keterangan resminya, Jumat (7/8/2026). Pernyataan ini menegaskan bahwa lonjakan impor bukan semata-mata untuk konsumsi.

Pada bulan Juni 2026 saja, nilai impor Indonesia mencapai US$ 25,91 miliar. Angka ini mengalami peningkatan 4,41% secara bulanan dan 34,27% secara tahunan. Pertumbuhan ini juga tercermin pada impor nonmigas yang naik 5,18% dan impor migas yang naik 0,96% jika dibandingkan dengan bulan sebelumnya.

Seluruh kelompok penggunaan barang menunjukkan pertumbuhan positif pada semester I-2026 jika dibandingkan dengan periode yang sama tahun sebelumnya. Impor bahan baku dan barang penolong meningkat 18,38% menjadi US$ 97,95 miliar. Sementara itu, impor barang modal mengalami kenaikan sebesar 20,50% menjadi US$ 27,36 miliar, dan impor barang konsumsi tumbuh 17,13% menjadi US$ 11,93 miliar.

Mendag Budi Santoso menambahkan bahwa kenaikan impor perlu dilihat secara proporsional. Menurutnya, hal ini turut menggambarkan peningkatan kebutuhan bahan baku, barang modal, serta aktivitas ekonomi nasional secara keseluruhan. Pertumbuhan impor ini menjadi salah satu indikasi meningkatnya kegiatan produksi dan perdagangan di dalam negeri.

“Pemerintah akan terus menjaga keseimbangan antara pemenuhan kebutuhan industri dalam negeri dengan upaya memperkuat ekspor sehingga neraca perdagangan tetap sehat dan berkelanjutan,” tegas Mendag Budi Santoso.

Dari sisi komoditas, kenaikan impor nonmigas terbesar selama semester I-2026 terjadi pada beberapa kelompok barang. Impor kendaraan udara dan bagiannya (HS 88) mengalami lonjakan drastis sebesar 655,65%. Selanjutnya, impor garam, belerang, batu, dan semen (HS 25) naik 87,69%, sedangkan impor bijih logam, terak, dan abu (HS 26) meningkat 57,07% secara kumulatif.

Berdasarkan negara asal, China masih menjadi pemasok terbesar untuk impor nonmigas Indonesia. Nilai impor dari China mencapai US$ 48,82 miliar, yang menyumbang 42,37% terhadap total impor nonmigas. Jepang menempati posisi berikutnya dengan nilai US$ 6,41 miliar atau 5,56% dari total impor nonmigas, diikuti oleh Australia sebesar US$ 5,71 miliar atau 4,96%.

Sementara itu, negara asal impor nonmigas dengan pertumbuhan terbesar pada semester I-2026 antara lain Meksiko yang melonjak 227,73%, Prancis dengan pertumbuhan 177,74%, dan Spanyol yang mencatat kenaikan 81,67% secara kumulatif.