— Harga batu bara dunia mengalami tekanan pada perdagangan Jumat, 7 Agustus 2026, dan diperkirakan tren ini berlanjut pekan depan. Peningkatan produksi di India serta prospek penurunan permintaan dari China menjadi faktor utama yang menekan harga komoditas ini.

Berdasarkan data perdagangan, harga batu bara Newcastle untuk kontrak Agustus 2026 turun US$ 0,4 menjadi US$ 127,85 per ton. Kontrak September 2026 melemah US$ 0,25 ke US$ 129,5 per ton, sementara kontrak Oktober 2026 sedikit naik US$ 0,1 menjadi US$ 131,65 per ton.

Sementara itu, harga batu bara Rotterdam untuk kontrak Agustus 2026 naik US$ 0,4 menjadi US$ 116,75 per ton. Kontrak September 2026 meningkat US$ 0,8 ke US$ 115,55 per ton, dan kontrak Oktober 2026 naik US$ 0,9 menjadi US$ 117,55 per ton.

Research and Development ICDX, Girta Yoga, menjelaskan bahwa sentimen utama pergerakan harga batu bara saat ini adalah peningkatan produksi India pada Juli yang melonjak lebih dari 7% menjadi sekitar 69,75 juta ton. Peningkatan ini mengindikasikan potensi penurunan permintaan impor India, yang merupakan salah satu importir batu bara terbesar dunia.

Selain itu, China juga berencana meningkatkan penggunaan energi terbarukan hingga setara dengan 1,8 miliar ton batu bara pada 2030. Perkembangan ini berpotensi mengurangi ketergantungan China terhadap pembangkit listrik berbasis batu bara dalam jangka panjang.

Prospek Harga Batu Bara Pekan Depan

Dari sisi teknikal, level resistance terdekat harga batu bara berada di US$ 129 per ton, sedangkan support terdekat berada di US$ 127,50 per ton. Dalam sepekan terakhir, harga batu bara tercatat turun 3,21%, meskipun secara year-to-date (ytd) masih mencatat kenaikan 20,37%.

Yoga memperkirakan harga batu bara masih berpotensi bertahan dalam tren bearish pada pekan depan. Indikator yang perlu dipantau meliputi kondisi permintaan di China dan India, pasokan dari Indonesia dan Australia, perkembangan kebijakan energi bersih, serta situasi pasar gas alam.

Perkiraan level resistance harga batu bara pekan depan berada di kisaran US$ 128-129,50 per ton, dengan level support di kisaran US$ 127,75-126,25 per ton.

Meskipun tekanan jangka pendek masih membayangi, prospek harga batu bara pada semester II-2026 diperkirakan cenderung netral hingga bullish moderat. Rentang pergerakan harga diproyeksikan berada di US$ 125-US$ 145 per ton.

Prospek positif ini ditopang oleh kondisi pasokan dari negara produsen utama, dinamika permintaan China dan India, serta pasar energi global. Namun, perkembangan kebijakan energi bersih dan transisi ke energi terbarukan tetap menjadi faktor penting yang dapat memengaruhi permintaan batu bara dalam jangka panjang.