Detak Media — Badan intelijen Amerika Serikat (AS) menilai Pemimpin Tertinggi baru Iran, Ayatollah Mojtaba Khamenei, memiliki ketertarikan lebih besar untuk mengembangkan senjata nuklir dibandingkan mendiang ayahnya, Ayatollah Ali Khamenei.
Meskipun Mojtaba belum pernah menyatakan dukungan terhadap program senjata nuklir secara terbuka, para pejabat AS percaya ia beserta jajaran kepemimpinan garis keras Iran yang baru berkeinginan kuat untuk memproduksinya. Laporan ini mengutip analisis New York Times.
Ayatollah Ali Khamenei, yang tewas dalam serangan gabungan AS dan Israel pada akhir Februari 2026, sebelumnya menolak pembangunan senjata nuklir meskipun terus memajukan program nuklir sipil Iran.
Di bawah kepemimpinan Mojtaba, pemerintah Iran saat ini menerapkan kontrol lebih ketat di jalur strategis Selat Hormuz. Pihak Iran juga tampil sebagai mitra negosiasi yang tangguh dalam pembahasan gencatan senjata dengan AS.
Laporan intelijen AS tersebut juga mengungkapkan, meski Iran belum memulai kembali program nuklirnya, otoritas negara tersebut telah mengambil langkah-langkah pengamanan. Langkah tersebut mencakup pemindahan sejumlah mesin sentrifugasi ke kompleks bawah tanah yang sangat terfortifikasi di wilayah Iran tengah, yang dijuluki AS sebagai Pickaxe Mountain.
Kendati demikian, para pejabat AS memberikan catatan, sebagian besar data intelijen mengenai pandangan Mojtaba dikumpulkan sebelum perang pecah. Mojtaba sendiri dilaporkan mengalami luka serius selama konflik dan kini membatasi kemunculannya di publik.
Pengamatan intelijen ini muncul di tengah pertimbangan Presiden AS Donald Trump untuk memperluas aksi militer terhadap Iran. Jika penilaian terkait ambisi nuklir Iran ini terbukti, hal tersebut berpotensi menjadi justifikasi tambahan bagi AS untuk mengeskalasi serangan militer di kawasan.
Transisi kepemimpinan tertinggi di Iran terjadi di tengah eskalasi militer yang sengit antara Iran, AS, dan Israel sejak awal 2026. Penunjukan Mojtaba Khamenei menggantikan ayahnya menandai pergeseran peta politik internal Iran menuju faksi yang lebih konservatif dan keras.
Isu kepemilikan senjata nuklir Iran telah lama menjadi fokus utama keamanan geopolitik global. Potensi pengembangan hulu ledak nuklir oleh Iran dipandang dapat memicu perlombaan senjata dan mengubah peta kekuatan militer secara drastis di kawasan Timur Tengah.
Ikuti Detak Media

Masuk dengan Google untuk ikut berkomentar.