Detak Media — JAKARTA – Badan Pusat Statistik (BPS) melaporkan inflasi tahunan Indonesia pada Juli 2026 tercatat sebesar 2,28%. Angka ini menunjukkan penurunan signifikan dibandingkan Juni 2026 yang mencapai 3,34%, dan berada di bawah target pemerintah yang dipatok pada kisaran 2,5% ± 1%.
Deputi Bidang Statistik Distribusi dan Jasa BPS, Ateng Hartono, menjelaskan bahwa penurunan inflasi ini tercermin dari Indeks Harga Konsumen (IHK) yang bergerak dari 108,60 pada Juli 2025 menjadi 111,73 pada Juli 2026.
Menurut Ateng, kelompok pengeluaran yang paling berkontribusi terhadap inflasi tahunan adalah makanan, minuman, dan tembakau, dengan laju inflasi sebesar 2,97% dan andil 0,87%. Komoditas utama yang mendorong inflasi di kelompok ini meliputi ikan segar, minyak goreng, beras, sigaret kretek mesin, daging ayam ras, cabai merah, daging sapi, serta sigaret kretek tangan.
Selanjutnya, sektor transportasi juga mengalami inflasi tahunan sebesar 5,12% dengan andil 0,62%, dipicu oleh kenaikan harga bensin, tarif angkutan udara, serta komponen biaya kendaraan seperti mobil/pelumas dan oli mesin.
Kelompok perawatan pribadi dan jasa lainnya mencatat inflasi tahunan sebesar 9,04% dengan andil 0,61%. Komoditas yang paling berpengaruh dalam kelompok ini adalah emas dan perhiasan.
Jika dilihat dari sebaran geografis, 38 provinsi mengalami inflasi. Inflasi tertinggi tercatat di Papua Barat sebesar 5,47%, sementara Papua Selatan mencatat inflasi terendah sebesar 1,46%.
Berdasarkan komponennya, inflasi tahunan terbagi menjadi tiga. Komponen inti mengalami inflasi 2,76% dengan andil terbesar 1,76%, didorong oleh emas perhiasan, minyak goreng, nasi dengan lauk, telepon seluler, dan biaya perguruan tinggi. Komponen harga yang diatur pemerintah naik 3,58% dengan andil 0,7%, meliputi bensin, tarif angkutan udara, sigaret kretek mesin, dan bahan bakar rumah tangga. Sementara itu, komponen harga bergejolak naik 2,52% dengan andil 0,42%, terutama dipengaruhi oleh beras, daging ayam ras, cabai merah, dan daging sapi.
Melandainya inflasi ini dinilai krusial bagi keberlanjutan pertumbuhan ekonomi Indonesia di tengah dinamika geopolitik global. Stabilitas inflasi yang terjaga menunjukkan daya beli masyarakat relatif aman dan pasokan pangan terkendali. Hal ini merupakan hasil efektivitas koordinasi antara Tim Pengendalian Inflasi Pusat (TPIP) dan Tim Pengendalian Inflasi Daerah (TPID) dalam menjaga kelancaran distribusi logistik dan stabilitas pasokan pangan.
Ikuti Detak Media

Masuk dengan Google untuk ikut berkomentar.