Detak Media — JAKARTA – Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) menunjukkan penguatan pada perdagangan sesi I, Jumat (31/7/2026). Peningkatan ini didorong oleh kembalinya minat investor terhadap aset berisiko, yang dipicu oleh meredanya tekanan inflasi di Amerika Serikat, ekspektasi The Fed menahan suku bunga, dan aksi beli investor asing.
Hingga penutupan sesi I, IHSG berhasil naik 29,91 poin atau 0,48% ke level 6.216,27. Indeks bergerak dalam rentang 6.201 hingga 6.236. Sebanyak 437 saham menguat, 192 saham melemah, dan 159 saham stagnan. Nilai transaksi tercatat mencapai Rp11,11 triliun dengan volume perdagangan 18,67 miliar saham yang melibatkan 1,13 juta kali transaksi.
Menurut analisis Pilarmas Investindo Sekuritas, sentimen positif global berasal dari Amerika Serikat. Data inflasi Personal Consumption Expenditures (PCE) pada Juni melandai menjadi 3,7% secara tahunan, sementara pertumbuhan ekonomi kuartal II melambat menjadi 1,5% secara tahunan. “Kondisi tersebut memperkuat ekspektasi bahwa The Fed akan kembali mempertahankan suku bunga acuannya pada pertemuan September mendatang,” tulis Pilarmas dalam risetnya.
Dari Asia, Pilarmas menyoroti hasil pertemuan Politbiro China yang menegaskan komitmen pemerintah untuk terus mendukung pertumbuhan ekonomi melalui kebijakan fiskal dan instrumen yang ada, termasuk menjaga stabilitas sektor properti, pasar tenaga kerja, dan sistem keuangan.
Sentimen pasar domestik juga ditopang oleh putusan Mahkamah Konstitusi (MK) yang menyatakan pendanaan program makan bergizi gratis tidak boleh menggunakan anggaran pendidikan. Selain itu, pasar merespons positif usulan Presiden Prabowo Subianto mengenai calon Gubernur Bank Indonesia definitif, yaitu Deputi Gubernur Senior Bank Indonesia, Destry Damayanti.
Pelaku pasar menilai pengalaman Destry di bidang kebijakan moneter dan stabilitas sistem keuangan berpotensi menjaga kesinambungan kebijakan Bank Indonesia, sekaligus memberikan kepastian bagi pasar.
Aksi Beli Asing Menopang IHSG
Pilarmas melaporkan bahwa dukungan terhadap IHSG juga datang dari investor asing yang mencatatkan aksi beli bersih (net buy) sebesar Rp100,16 miliar di pasar reguler pada perdagangan sesi I.
“Penguatan saham-saham berkapitalisasi besar (blue chip) serta musim rilis laporan keuangan emiten turut menopang pergerakan indeks,” papar Pilarmas.
Mayoritas sektor mengakhiri sesi I di zona hijau. Sektor barang baku memimpin penguatan dengan kenaikan 2,06%, diikuti sektor perindustrian 1,47%, properti 1,21%, barang konsumsi nonprimer 1,07%, dan kesehatan 0,95%. Sebaliknya, sektor keuangan turun 0,39% dan barang konsumsi primer melemah 0,27%.
Di kawasan Asia, indeks Shanghai Composite menguat 0,76% dan Nikkei 225 Jepang melonjak 3,97%. Sementara itu, Straits Times Singapura turun 0,82% dan Hang Seng Hong Kong terkoreksi 0,11%.
Pilarmas merekomendasikan beli saham PT Amman Mineral Internasional Tbk (AMMN) dengan area support di level 3.890 dan resistance pada 4.360.
Ikuti Detak Media

Masuk dengan Google untuk ikut berkomentar.