Detak Media — Harga minyak dunia mengalami penurunan signifikan pada perdagangan Kamis (30/7/2026) waktu setempat, meskipun ketegangan di Timur Tengah kembali meningkat. Penurunan ini terjadi setelah pasar merespons positif usulan Arab Saudi untuk membentuk koalisi maritim guna memperkuat keamanan jalur pelayaran strategis, yang secara efektif meredakan kekhawatiran mengenai potensi gangguan pasokan minyak global.
Menurut laporan Reuters, harga minyak mentah Brent ditutup turun US$ 1,71 atau 1,88% menjadi US$ 89,03 per barel. Sementara itu, harga minyak mentah West Texas Intermediate (WTI) juga terkoreksi US$ 0,87 atau 1,03% dan berakhir di US$ 83,59 per barel.
Perdagangan sempat diwarnai volatilitas, dengan Brent sempat menyentuh level US$ 93,31 per barel. Lonjakan ini terjadi setelah Amerika Serikat (AS) dan Iran kembali saling melancarkan serangan terhadap target militer masing-masing di kawasan tersebut.
Arab Saudi mengajukan usulan pembentukan koalisi maritim multinasional dengan tujuan meningkatkan kerja sama pertahanan di wilayah strategis seperti Selat Bab el-Mandeb, Laut Merah, dan Teluk Aden. Inisiatif ini mendapat dukungan dari 14 negara, termasuk Turki, Pakistan, Mesir, Sudan, dan Djibouti.
Sentimen pasar juga dipengaruhi oleh jalannya pembicaraan antara Iran dan Oman terkait pengelolaan Selat Hormuz. Meskipun belum ada kesepakatan konkret yang tercapai, dialog tersebut dinilai pasar sebagai sinyal positif yang membuka peluang perbaikan akses pelayaran di jalur yang krusial bagi distribusi energi global.
John Kilduff, Mitra di Again Capital, berpendapat bahwa pasar meyakini potensi peningkatan pasokan minyak akan kembali terbuka apabila ketegangan geopolitik di kawasan mereda. “Pasar melihat ada pasokan yang siap masuk begitu konflik mereda. Kondisi itu membatasi kenaikan harga minyak yang lebih tajam,” ujarnya.
Konflik Timur Tengah Meluas
Di sisi lain, eskalasi konflik di Timur Tengah terus menunjukkan perluasan dampaknya. Militer AS mengonfirmasi telah melancarkan serangan terhadap puluhan target milik Garda Revolusi Iran sebagai respons atas serangan rudal yang dilancarkan Teheran terhadap pasukan AS di kawasan.
Sementara itu, kelompok Houthi yang mendapat dukungan dari Iran mengklaim telah memblokade laut terhadap Arab Saudi dan melakukan serangan terhadap fasilitas minyak di wilayah timur kerajaan tersebut. Insiden juga terjadi di Pelabuhan Damietta, Mesir, di mana sebuah drone memicu kebakaran pada dua kapal pengangkut gas.
Tekanan terhadap pasokan minyak global semakin meningkat setelah aktivitas ekspor di terminal Caspian Pipeline Consortium (CPC) mengalami gangguan akibat insiden saat proses pemuatan minyak. Di Rusia, serangan drone yang dilancarkan Ukraina juga menyebabkan kebakaran di kilang minyak milik Lukoil, memaksa salah satu unit penyulingan minyak dihentikan sementara.
Meskipun demikian, pasar secara umum menilai bahwa upaya diplomasi yang sedang berlangsung dan penguatan keamanan jalur pelayaran mampu mengimbangi kekhawatiran terhadap potensi gangguan pasokan. Hal ini menjadi faktor utama yang menyebabkan harga minyak ditutup lebih rendah pada akhir perdagangan.
Ikuti Detak Media

Masuk dengan Google untuk ikut berkomentar.