Detak Media — Harga emas dunia berbalik melemah pada penutupan perdagangan Kamis (6/8/2026) waktu setempat, setelah sempat mencatatkan kenaikan signifikan lebih dari 4% sehari sebelumnya. Penurunan ini dipicu oleh meningkatnya kekhawatiran inflasi akibat lonjakan harga minyak mentah dunia.
Pergerakan harga komoditas logam mulia ini dipengaruhi oleh ancaman Iran untuk membatasi pelayaran di Selat Hormuz, yang berdampak pada pasar energi dan memperkuat ekspektasi kenaikan suku bunga oleh The Federal Reserve (The Fed). Harga emas spot tercatat turun 0,15% menjadi US$ 4.240,69 per ons troi. Sebelumnya, emas sempat melonjak lebih dari 4% pada perdagangan Rabu (5/8/2026), menandai kenaikan harian terbesar sejak Februari.
Kontrak berjangka emas AS juga dilaporkan melemah 0,15% menjadi US$ 4.298,6 per ons troi. Perubahan sentimen pasar terjadi setelah sebuah komite parlemen Iran meninjau rancangan undang-undang yang berpotensi melarang kapal-kapal dari Amerika Serikat, Israel, dan negara-negara yang dianggap ‘bermusuhan’ melintasi Selat Hormuz. Informasi ini disampaikan oleh kantor berita semi-resmi Fars, mengutip salah satu anggota parlemen Iran.
Berita tersebut secara langsung memicu kenaikan harga minyak dunia lebih dari US$ 3 per barel, karena pasar mengkhawatirkan potensi gangguan terhadap jalur pelayaran energi yang sangat strategis tersebut. Analis pasar di American Gold Exchange, Jim Wyckoff, menjelaskan bahwa kenaikan harga minyak mentah kembali memicu kekhawatiran inflasi. “Kenaikan harga minyak mentah kembali memicu kekhawatiran inflasi sehingga memengaruhi pergerakan emas,” ujarnya. Harga energi yang lebih tinggi berpotensi meningkatkan biaya produksi dan mendorong inflasi, yang dapat membuat bank sentral cenderung mempertahankan suku bunga tinggi dalam jangka waktu lebih lama.
Pelaku pasar juga tengah menantikan rilis data ketenagakerjaan Amerika Serikat yang dijadwalkan pada Jumat waktu setempat. Data ini diperkirakan akan menjadi salah satu faktor penentu arah kebijakan suku bunga The Fed. Analis senior StoneX, Bob Haberkorn, menyatakan bahwa prospek kebijakan The Fed tetap menjadi faktor utama yang memengaruhi pergerakan harga emas. Menurutnya, data tenaga kerja AS akan memberikan petunjuk baru mengenai langkah bank sentral dalam menentukan suku bunga pada pertemuan berikutnya.
Berdasarkan CME FedWatch Tool, pelaku pasar saat ini memperkirakan peluang sekitar 57% bagi The Fed untuk menaikkan suku bunga pada pertemuan September, dan sekitar 84% untuk kenaikan suku bunga pada Desember. Suku bunga yang lebih tinggi umumnya meningkatkan daya tarik aset berbunga, sehingga berpotensi mengurangi minat investor terhadap emas yang tidak memberikan imbal hasil.
Haberkorn menambahkan, reli tajam emas pada perdagangan sebelumnya dipicu oleh masuknya kembali dana investor setelah beberapa level teknikal penting berhasil ditembus. Meskipun demikian, harga emas masih berada di kisaran 24% di bawah rekor tertingginya yang mencapai US$ 5.594,82 per ons troi pada akhir Januari.
Sementara itu, pergerakan logam mulia lainnya menunjukkan tren yang bervariasi. Harga perak spot turun 0,9% menjadi US$ 61,54 per ons troi, platinum melemah 0,6% ke US$ 1.724,64 per ons troi. Di sisi lain, paladium mencatat kenaikan 0,6% menjadi US$ 1.371,48 per ons troi.
Ikuti Detak Media

Masuk dengan Google untuk ikut berkomentar.