— Pasar emas perhiasan global mengalami perlambatan signifikan, dipicu oleh lonjakan harga emas yang terus berlanjut. World Gold Council (WGC) melaporkan penurunan permintaan sebesar 17% menjadi 278 ton pada kuartal kedua tahun 2026.

Perlambatan ini terutama terlihat di negara-negara konsumen emas terbesar. China, sebagai pasar utama, mencatat penurunan permintaan emas perhiasan hingga 28% menjadi 50 ton, angka terendah sejak tahun 2004. India juga mengalami pelemahan permintaan sebesar 15%, dengan total pembelian hanya 75 ton.

Meskipun volume permintaan menurun, nilai pasar emas perhiasan justru menunjukkan pertumbuhan. WGC mencatat nilai permintaan tumbuh 14% menjadi US$ 40 miliar pada kuartal kedua 2026, dan meningkat 22% menjadi US$ 86 miliar selama semester pertama tahun ini. Fenomena ini terjadi karena konsumen beralih ke perhiasan emas yang lebih ringan dan berkadar lebih rendah.

Louise Street, analis pasar senior di World Gold Council dan penulis utama laporan, menyatakan, “Harga tinggi akan terus menekan volume permintaan emas perhiasan, meskipun konsumen mungkin akan terus menyimpan daripada menjual, dengan daur ulang menunjukkan sedikit tanda peningkatan.”

Sementara itu, sektor lain menunjukkan tren yang berbeda. Permintaan emas batangan di sektor resmi, terutama dari bank sentral dan lembaga global, justru melonjak tajam. Pembelian bersih emas mencapai total 289 ton, naik 62% dibandingkan tahun sebelumnya. Angka ini menandai peningkatan permintaan emas sebesar lima kali lipat dari kuartal pertama.

Bank Nasional Polandia menjadi pembeli terbesar dengan tambahan 51 ton emas, meningkatkan total cadangan logam mulia mereka menjadi 632 ton. People’s Bank of China juga menambah 33 ton emas, penambahan triwulanan terbesar sejak kuartal keempat 2023, sehingga total kepemilikan dilaporkan menjadi 2.346 ton.

“Bank sentral akan tetap menjadi pembeli yang signifikan, meskipun dengan kecepatan yang sedikit lebih lambat daripada yang kita lihat selama empat tahun terakhir,” tambah Street.