Detak Media — Harga batu bara dunia mengalami penurunan signifikan pada perdagangan Rabu (5/8/2026). Penurunan ini dipicu oleh kombinasi meningkatnya produksi batu bara di India dan melemahnya harga minyak mentah global.
Kedua faktor tersebut menimbulkan kekhawatiran mengenai potensi pelemahan permintaan batu bara di pasar internasional. Berdasarkan data perdagangan, harga batu bara Newcastle untuk kontrak Agustus 2026 tercatat turun US$ 2,05 menjadi US$ 128,80 per ton. Kontrak September 2026 melemah US$ 3,05 ke level US$ 129,30 per ton, sementara kontrak Oktober 2026 turun US$ 3 menjadi US$ 131,05 per ton.
Penurunan serupa juga terjadi pada harga batu bara Rotterdam. Kontrak Agustus 2026 melemah US$ 1,85 menjadi US$ 116,05 per ton. Kontrak September 2026 turun US$ 2,85 ke US$ 114,05 per ton, dan kontrak Oktober 2026 turun US$ 3,15 menjadi US$ 115,75 per ton.
Mengutip dari Trading Economics, penurunan harga batu bara ini terjadi setelah India melaporkan peningkatan produksi batu bara sebesar 7,51% secara tahunan pada bulan Juli, mencapai 69,75 juta ton. Peningkatan pasokan domestik ini mengurangi ketergantungan India terhadap impor batu bara. Selain itu, India juga meningkatkan distribusi batu bara ke pembangkit listrik dan sektor industri lainnya, yang semakin menekan kebutuhan impor.
Tekanan terhadap harga batu bara semakin bertambah dengan anjloknya harga minyak dunia. Hal ini menyusul laporan mengenai potensi kesepakatan antara Amerika Serikat dan Iran untuk membuka kembali Selat Hormuz. Penurunan harga minyak mengurangi insentif bagi negara-negara pengimpor energi di Eropa dan Asia untuk beralih menggunakan batu bara sebagai bahan bakar alternatif (fuel switching).
Di sisi lain, permintaan batu bara dari China mulai menunjukkan tanda-tanda perbaikan. Cuaca yang lebih panas mendorong peningkatan penggunaan pendingin udara dan konsumsi listrik di negara tersebut. Namun, kenaikan permintaan dari China ini belum mampu mengimbangi tekanan dari melimpahnya pasokan India serta pelemahan harga minyak. Akibatnya, harga batu bara global masih bergerak dalam tren menurun.
Ikuti Detak Media

Masuk dengan Google untuk ikut berkomentar.