Detak Media — Harga emas dunia ditutup menguat tipis pada perdagangan Jumat (24/7/2026) waktu setempat. Penguatan ini terjadi setelah harga minyak mentah Brent terkoreksi dari level psikologis US$ 100 per barel.
Investor kini mengalihkan perhatian pada perkembangan konflik di Timur Tengah serta rapat kebijakan moneter bank sentral The Fed yang dijadwalkan pekan depan. Harga emas spot ditutup naik 0,08% menjadi US$ 4.052,98 per ons troi. Sebelumnya, logam mulia ini sempat merosot sekitar 2% pada sesi sebelumnya. Secara mingguan, harga emas masih mencatat kenaikan sekitar 0,88%, didorong aksi beli saat harga terkoreksi atau yang dikenal dengan istilah buy on dip.
Sementara itu, kontrak berjangka emas Amerika Serikat untuk pengiriman Agustus ditutup menguat 0,14% ke US$ 4.055,7 per ons troi. Pedagang logam independen Tai Wong mengatakan, emas mulai membentuk area penopang yang kuat meskipun imbal hasil obligasi AS terus meningkat.
“Emas tampak siap bergerak lebih tinggi. Jika The Fed mempertahankan suku bunga pada pertemuan pekan depan, hal itu akan menjadi sentimen positif bagi harga emas,” ujarnya.
Sentimen pasar juga dipengaruhi oleh pelemahan harga minyak Brent yang anjlok lebih dari 4% setelah sehari sebelumnya melonjak lebih dari 7% hingga ditutup di atas US$100 per barel, level tertinggi sejak Mei. Lonjakan tersebut dipicu oleh serangan kelompok Houthi yang bersekutu dengan Iran terhadap dua kapal tanker minyak Arab Saudi di Laut Merah.
Sejak konflik yang didukung AS terhadap Iran pecah pada akhir Februari lalu, harga emas telah turun sekitar 23%. Penurunan ini dipicu kekhawatiran bahwa lonjakan inflasi akibat perang akan membuat suku bunga tetap tinggi lebih lama. Meskipun emas dikenal sebagai aset lindung nilai terhadap inflasi, kenaikan suku bunga cenderung mengurangi daya tarik logam mulia karena tidak memberikan imbal hasil.
Pelaku pasar kini menunggu hasil rapat kebijakan The Fed pekan depan. Bank sentral AS secara luas diperkirakan akan mempertahankan suku bunga acuannya. Namun, berdasarkan CME FedWatch Tool, pelaku pasar memperkirakan peluang kenaikan suku bunga pada September mencapai sekitar 82%.
Analis ING menilai, penguatan emas belakangan ini lebih banyak didorong aksi buy on dip dan penutupan posisi jual (short covering) setelah koreksi tajam dari rekor tertingginya pada awal tahun. Menurut ING, kenaikan harga minyak dan imbal hasil obligasi masih berpotensi membatasi ruang penguatan emas, sehingga level US$ 4.000 per ons troi menjadi area krusial yang perlu dicermati dalam jangka pendek.
Di pasar logam mulia lainnya, harga perak spot naik 0,94% menjadi US$ 58,2 per ons. Sebaliknya, platinum malah turun 0,27% menjadi US$ 1.592,7 per ons dan paladium melemah 0,92% ke US$ 1.246,2 per ons.
Ikuti Detak Media

Masuk dengan Google untuk ikut berkomentar.