— Harga emas dunia mengalami pelemahan tipis pada perdagangan Rabu (5/8/2026) pagi. Namun, para analis menilai bahwa logam mulia ini tengah memasuki fase krusial yang akan sangat menentukan arah pergerakannya sepanjang bulan Agustus.

Data ketenagakerjaan Amerika Serikat (AS) yang akan dirilis pekan ini diperkirakan menjadi katalis utama yang akan memengaruhi pergerakan harga emas.

Berdasarkan data perdagangan, harga emas tercatat turun 0,14% menjadi US$ 4.071,67 per ons troi pada Rabu pagi. Pada perdagangan sebelumnya, Selasa (4/8/2026), harga emas sempat ditutup menguat sebesar 0,66% ke level US$ 4.080,75 per ons troi.

Michael Boutros, Senior Technical Strategist FOREX.com, menjelaskan bahwa harga emas saat ini masih tertahan dalam fase konsolidasi. Konsolidasi ini telah berlangsung selama tujuh pekan di atas level terendah tahun ini. Menurutnya, pergerakan keluar dari kisaran konsolidasi tersebut, atau yang dikenal sebagai breakout, kemungkinan besar akan menjadi penentu arah pergerakan harga emas sepanjang Agustus.

Boutros menambahkan bahwa momentum emas saat ini berada pada level terlemah sejak akhir tahun 2023. Oleh karena itu, pasar sangat membutuhkan katalis baru untuk mengkonfirmasi apakah harga emas akan melanjutkan tren kenaikannya atau justru kembali mengalami pelemahan.

Saat ini, perhatian pelaku pasar tertuju pada sejumlah data ekonomi penting AS yang berpotensi besar memengaruhi ekspektasi terhadap kebijakan suku bunga The Fed.

Data Ekonomi AS Menjadi Sorotan

Pada Rabu (5/8/2026), pasar akan mencermati rilis data ADP Employment Change untuk periode Juli dan ISM Services PMI Juli. Puncaknya, pada Jumat (7/8/2026) waktu AS atau Sabtu dini hari WIB, perhatian utama akan tertuju pada data nonfarm payrolls (NFP) dan tingkat pengangguran bulan Juli.

Boutros memprediksi bahwa data ketenagakerjaan AS yang dirilis lebih kuat dari perkiraan dapat memperkuat ekspektasi pasar bahwa The Fed akan mempertahankan suku bunga tinggi dalam jangka waktu yang lebih lama. Kondisi ini berpotensi menekan harga emas, mengingat logam mulia ini tidak memberikan imbal hasil.

“Sebaliknya, jika data menunjukkan adanya pelemahan pada pasar tenaga kerja, maka peluang untuk pelonggaran kebijakan moneter akan meningkat. Kondisi tersebut dapat menjadi sentimen positif bagi emas dan membuka peluang terjadinya breakout ke arah atas,” tutupnya.