— Harga emas pekan depan diprediksi akan dipengaruhi oleh kombinasi kebijakan moneter The Fed dan data ekonomi Amerika Serikat. Meskipun masih tertahan di bawah US$ 4.100 per ons troi, level US$ 4.000 per ons troi dipandang sebagai area penopang yang semakin menarik bagi para investor.

Sentimen pasar mulai bergeser setelah data produk domestik bruto (PDB) AS kuartal II menunjukkan aktivitas ekonomi yang lebih lemah dari perkiraan. Kondisi ini membuat investor lebih sensitif terhadap data ekonomi, terutama menjelang rilis laporan ketenagakerjaan sepanjang pekan depan.

Chief Investment Officer Zaye Capital Markets, Naeem Aslam, mengatakan bahwa harga emas saat ini bergerak dalam kisaran terbatas, sehingga kejutan kecil dari data ekonomi berpotensi memicu pergerakan yang lebih besar. Perhatian pasar tidak hanya tertuju pada data tenaga kerja, tetapi juga hasil rapat The Fed yang mengindikasikan masih ada pejabat bank sentral yang menginginkan kenaikan suku bunga.

Secara konsensus, ekonom memperkirakan ekonomi AS akan menciptakan sekitar 91.000 lapangan kerja baru pada Juli. Head of Gold Strategy State Street Investment Management, Aakash Doshi, menilai bahwa data ketenagakerjaan yang kembali mengecewakan dapat mengubah ekspektasi pasar terhadap arah suku bunga The Fed.

Doshi memperkirakan, apabila perubahan ekspektasi tersebut mendorong imbal hasil obligasi pemerintah AS tenor dua tahun turun di bawah 4%, harga emas berpotensi naik ke kisaran US$ 4.500 hingga US$ 4.750 per ons troi sebelum akhir tahun. Sebaliknya, data tenaga kerja yang lebih kuat dari perkiraan dapat kembali menekan harga emas hingga di bawah US$ 4.000 per ons troi. Namun, sejumlah analis menilai potensi pelemahan lebih lanjut masih terbatas dan justru membuka peluang akumulasi bagi investor jangka panjang.

Fundamental Tetap Kuat

Director of Investment Strategy abrdn, Robert Minter, mengungkapkan bahwa investor mulai mengalihkan perhatian dari retorika hawkish The Fed menuju fundamental jangka panjang yang masih mendukung harga emas. Menurutnya, meningkatnya utang pemerintah, permintaan emas yang tetap kuat dari bank sentral, serta keterbatasan ruang kenaikan suku bunga menjadi faktor utama yang menopang prospek emas.

Minter juga menilai pelemahan dolar AS setelah keputusan terbaru The Fed menjadi sinyal bahwa pasar mulai mengurangi kekhawatiran terhadap kebijakan moneter yang ketat. Pandangan serupa disampaikan CEO Morton Wealth, Jeff Sarti. Ia menilai kemampuan harga emas bertahan di atas US$ 4.000 per ons troi menunjukkan investor mulai melihat melampaui sikap hawkish The Fed.

Meskipun inflasi masih berada di atas target bank sentral, Sarti menilai The Fed tidak akan agresif menaikkan suku bunga. Bahkan jika kenaikan kembali dilakukan, besarnya diperkirakan terbatas sehingga tidak cukup untuk memicu tekanan jual baru di pasar emas.

Namun, tidak semua analis memiliki pandangan optimistis. Analis Commerzbank, Carsten Fritsch, menilai bahwa peluang kenaikan suku bunga pada September masih menjadi hambatan bagi penguatan harga emas karena inflasi AS belum menunjukkan perlambatan yang cukup kuat.

Pelaku pasar akan mencermati sejumlah data ekonomi AS yang diperkirakan memicu volatilitas harga emas. Data tersebut meliputi ISM Manufacturing PMI pada Senin, JOLTS Job Openings pada Selasa, ADP Employment dan ISM Services PMI pada Rabu, klaim pengangguran mingguan pada Kamis, serta Nonfarm Payrolls (NFP) pada Jumat. Data-data ini diperkirakan menjadi penentu arah ekspektasi suku bunga The Fed sekaligus pergerakan harga emas dalam jangka pendek.