— Harga emas dilaporkan mengalami penurunan pada hari Selasa, tertekan oleh penguatan dolar Amerika Serikat yang bertahan di dekat level tertingginya dalam satu bulan terakhir. Pasar komoditas emas juga bergerak menurun seiring antisipasi terhadap keputusan suku bunga Federal Reserve (The Fed) dan pernyataan dari Ketua Kevin Warsh yang diharapkan dapat memberikan petunjuk mengenai arah kebijakan moneter ke depan.

Mengutip laporan dari CNBC International, harga emas spot tercatat menurun 1,1% mencapai level US$ 4.032,42 per troy ounce. Kontrak berjangka emas AS untuk pengiriman bulan Agustus juga mengalami pelemahan serupa, turun 1,1% menjadi US$ 4.032,40 per troy ounce.

David Meger, direktur perdagangan logam di High Ridge Futures, menjelaskan bahwa tingginya harga energi masih menjadi perhatian utama terkait potensi inflasi bagi anggota The Fed. “Kecenderungan hawkish yang diantisipasi dari The Fed telah mendorong ekspektasi kenaikan suku bunga dan penguatan dolar AS, yang pada gilirannya memberikan tekanan pada pasar emas,” ujarnya.

Perlu dicatat, harga emas sendiri telah mengalami penurunan sekitar 24% sejak konflik antara Amerika Serikat dan Iran pecah pada akhir Februari 2026. Pada periode tersebut, emas tertekan oleh prediksi bahwa inflasi yang dipicu oleh perang dapat mempertahankan prospek suku bunga tetap tinggi dalam jangka waktu yang lebih lama.

Meskipun emas sering dipandang sebagai instrumen lindung nilai jangka panjang terhadap inflasi, kenaikan suku bunga biasanya memberikan beban tambahan bagi logam mulia. Saat ini, para investor menanti keputusan suku bunga The Fed dan pernyataan dari Ketua Warsh yang dijadwalkan pada hari Rabu.

Para pelaku pasar memperkirakan adanya peluang sebesar 69% bagi para pembuat kebijakan The Fed untuk mempertahankan suku bunga acuannya. Selain itu, terdapat pula perkiraan 77% kemungkinan kenaikan suku bunga pada pertemuan bank sentral AS yang akan diselenggarakan pada bulan September mendatang.