— Penderita diabetes dan hipertensi disarankan untuk tidak menunda pemeriksaan mata hingga penglihatan mulai kabur. Kedua kondisi medis ini berpotensi mengancam penglihatan bahkan sebelum gejala spesifik muncul.

Menurut dr. Low Jin Rong, spesialis mata konsultan di Cornerstone Eye Centre, Asian Healthcare Specialists, Singapura, diabetes dapat merusak pembuluh darah halus pada retina. Sementara itu, tekanan darah tinggi yang berlangsung lama atau tidak terkontrol dapat memengaruhi sirkulasi dan struktur pendukung kesehatan mata. Perubahan ini seringkali terjadi tanpa rasa sakit atau penurunan penglihatan yang kentara, membuat penderitanya masih dapat beraktivitas normal.

“Banyak pasien secara rutin memantau kadar gula darah, tekanan darah, serta fungsi jantung dan ginjal, tetapi mungkin belum menyadari bahwa mata juga dapat terdampak,” ujar dr. Low Jin Rong di Jakarta, Jumat (24/7/2026). Ia menambahkan, “Penglihatan yang masih jelas tidak selalu berarti bahwa retina, saraf optik, dan lapang pandang perifer berada dalam kondisi sehat. Gejala saja tidak cukup untuk mengetahui apa yang sedang terjadi di dalam mata.”

Komplikasi Penglihatan Akibat Diabetes dan Hipertensi

Diabetes dan tekanan darah tinggi umum dikaitkan dengan risiko penyakit jantung, stroke, dan ginjal. Namun, dampaknya terhadap penglihatan kerap tidak dibicarakan dengan urgensi yang sama.

“Retinopati diabetik terjadi ketika kadar gula darah yang tinggi dalam jangka panjang merusak pembuluh darah pada retina, yaitu jaringan peka cahaya yang terletak di bagian belakang mata,” jelas dr. Low. Pada tahap awal, kerusakan ini mungkin tidak disadari penderitanya. Seiring waktu, pembuluh darah yang rusak dapat mengalami kebocoran, pendarahan, atau mengganggu ketajaman penglihatan sentral.

Tekanan darah tinggi pun dapat menyebabkan perubahan pada pembuluh darah retina. Dalam kasus yang berat atau kronis, kondisi ini dapat memengaruhi retina dan saraf optik.

Penting dicatat, tidak semua penderita diabetes atau hipertensi akan mengalami kehilangan penglihatan. Namun, menunggu hingga penglihatan memburuk bukanlah metode pemantauan kesehatan mata yang efektif.

“Pemeriksaan mata seharusnya tidak hanya dipandang sebagai pemeriksaan untuk menentukan kebutuhan kacamata,” kata dr. Roy Tan, spesialis mata konsultan di Cornerstone Eye Centre. “Melalui pemeriksaan tersebut, dokter dapat menilai struktur mata yang mungkin sudah menunjukkan dampak suatu penyakit sebelum pasien menyadari adanya perubahan.”

Bahaya Glaukoma yang Sering Terlambat Dideteksi

Selain retinopati diabetik dan hipertensi, glaukoma merupakan kondisi lain yang dapat berkembang tanpa gejala awal yang jelas. Penyakit ini secara bertahap merusak saraf optik, umumnya dimulai dengan mempengaruhi penglihatan samping. Karena penglihatan sentral seringkali tetap jelas, pasien mungkin tidak menyadari hilangnya sebagian lapang pandang.

Penglihatan yang hilang akibat glaukoma tidak dapat dipulihkan. Namun, diagnosis dan penanganan dini sangat krusial untuk memperlambat perkembangan penyakit dan mempertahankan sisa penglihatan.

“Tekanan bola mata merupakan faktor penting, tetapi hanya salah satu bagian dari pemeriksaan. Dokter juga perlu mempertimbangkan kondisi saraf optik, lapang pandang, perubahan yang terjadi dari waktu ke waktu, riwayat keluarga, serta profil kesehatan pasien secara keseluruhan,” tutur dr. Low.

Faktor risiko glaukoma meliputi tekanan bola mata tinggi, riwayat keluarga dengan glaukoma, miopia tinggi, usia lanjut, riwayat cedera mata, diabetes, dan penggunaan kortikosteroid jangka panjang. Beberapa jenis glaukoma sudut tertutup juga lebih umum pada populasi Asia.

“Tergantung pada jenis dan tahap penyakit, penanganan dapat berupa pemantauan, pemberian obat, tindakan laser, atau operasi,” tambah dr. Low.

Siapa yang Perlu Menjalani Pemeriksaan Mata Rutin?

Pasien dengan diabetes atau tekanan darah tinggi sebaiknya berkonsultasi dengan dokter mata mengenai jadwal pemeriksaan yang tepat, terutama jika mereka memenuhi kriteria berikut:

  • Telah hidup dengan diabetes atau hipertensi selama beberapa tahun.
  • Mengalami kesulitan dalam mengontrol kadar gula darah atau tekanan darah.
  • Memasuki usia paruh baya atau lebih tua.
  • Memiliki miopia (rabun jauh) yang tinggi.
  • Memiliki riwayat glaukoma atau penyakit mata serius dalam keluarga.
  • Belum pernah menjalani pemeriksaan mata menyeluruh sebelumnya.
  • Pernah diberitahu bahwa tekanan bola matanya tinggi.