— Penulis buku The Big Reset, Willem Middelkoop, mengemukakan pandangannya mengenai strategi akumulasi emas yang dilakukan China. Menurut Middelkoop, China justru lebih menyukai harga emas yang rendah agar dapat terus melakukan pembelian dalam jumlah besar.

Pandangan ini bertolak belakang dengan anggapan umum yang menyebut bahwa penimbunan emas oleh China mendorong kenaikan harga logam mulia tersebut. Middelkoop menjelaskan bahwa peran emas sebagai instrumen moneter juga mulai kembali secara perlahan melalui pembukuan bank sentral.

Pendiri Commodity Discovery Fund ini menyatakan kepada Kitco News bahwa China terus membeli emas ketika harganya turun. Strategi serupa juga diterapkan China terhadap komoditas tembaga dan minyak. Ia memperkirakan China membeli lebih dari 150 ton emas hanya pada Juni, dengan permintaan emas dan perak di negara tersebut melonjak 150% hingga 200% dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya.

“Mereka menyukai harga yang lebih rendah. Mereka menyukai koreksi ini. Saya kira koreksi harga hampir berakhir,” ujar Middelkoop. Angka pembelian 150 ton tersebut merupakan perkiraan Middelkoop atas total permintaan emas China, yang jauh lebih tinggi dibandingkan pembelian resmi bank sentral yang dilaporkan.

Sementara itu, World Gold Council memperkirakan pembelian emas oleh bank sentral China pada Juni hanya sekitar 15 ton. Middelkoop berpendapat bahwa jumlah emas yang sebenarnya dikendalikan oleh Pemerintah China jauh lebih besar dibandingkan cadangan resmi yang diumumkan. Ia merujuk pada pengakuannya dari seorang mantan pejabat bank sentral China pada 2015, yang menyebut dua lembaga negara lain turut membeli emas, salah satunya State Administration of Foreign Exchange.

Middelkoop menambahkan bahwa negara-negara ‘Jalur Sutra’, termasuk China dan India, telah mengakumulasi lebih dari 50.000 ton emas sejak krisis keuangan global pada 2008. Hal ini menjelaskan mengapa data resmi tidak sepenuhnya mencerminkan besarnya permintaan emas.

Bank sentral kini menjadi penggerak utama harga emas, dengan sejumlah bank sentral ‘menimbun emas fisik’. Pembeli terbesar terkonsentrasi di negara-negara di sebelah timur Jerman. Permintaan emas dari bank sentral telah berada di kisaran 1.000 ton per tahun selama lima tahun berturut-turut, setara sekitar sepertiga produksi emas tambang dunia.

Emas juga terus berpindah dari negara-negara Barat menuju Timur, dan pusat pembentukan harga emas bergeser dari COMEX di Amerika Serikat menuju Shanghai. Data independen dari World Gold Council mendukung kecenderungan ini, dengan bank sentral membeli rata-rata lebih dari 1.000 ton emas per tahun sejak 2022.

Emas telah melampaui surat utang pemerintah Amerika Serikat sebagai aset cadangan terbesar kedua setelah dolar AS. Berdasarkan data Bank Sentral Eropa, porsi emas mencapai sekitar 27% dari total cadangan global pada akhir 2025, meningkat dari 20% setahun sebelumnya.

Middelkoop mengutip laporan terbaru Deutsche Bank yang menyatakan emas telah menggantikan surat utang pemerintah AS sebagai aset cadangan utama, dengan proyeksi peningkatan porsi emas sebagai cadangan hingga 40% sampai 50%. Hal ini dapat mendukung harga emas jauh di atas US$ 10.000 per ons troy, dengan perkiraan mencapai US$ 14.000 hingga US$ 15.000 per ons troy.