Detak Media — WASHINGTON – Militer Amerika Serikat (AS) menegaskan bahwa Selat Hormuz tetap aman dan terbuka untuk seluruh kapal komersial. Pernyataan ini disampaikan menyusul indikasi kesepakatan terkait pembukaan penuh jalur pelayaran vital tersebut yang berpotensi dicapai dalam waktu dekat.
Komando Pusat AS (USCENTCOM) mengonfirmasi melalui unggahan di platform X, bahwa jalur selatan Selat Hormuz tetap berjalan bebas dan terbuka. Pihak militer AS mencatat telah membantu pengawalan lebih dari 1.000 kapal yang melintasi perairan tersebut di tengah situasi ketegangan dan provokasi dari pihak Iran. Jalur selatan ini secara khusus melintasi wilayah perairan Oman, menjauhi area yang berdekatan langsung dengan pesisir Iran.
Pasar Minyak Bergerak Stabil
Sinyal positif dari AS turut meredakan gejolak di pasar energi global. Harga minyak dunia tercatat melandai setelah komentar Menteri Keuangan AS Scott Bessent merebak. “Kami sedang berdiskusi intensif dengan pihak Iran. Ada peluang besar kesepakatan dapat dicapai hari ini atau besok untuk membuka kembali Selat Hormuz dan mengarahkan konflik ini menuju situasi yang lebih stabil,” ujar Bessent.
Dampak dari pernyataannya, harga minyak mentah acuan Brent naik tipis menjadi US$ 79,7 per barel pada Rabu, setelah sempat merosot tajam hingga 5,3% sehari sebelumnya. Sementara itu, minyak mentah West Texas Intermediate (WTI) menguat tipis ke level US$ 75,95 per barel usai terkoreksi 5,7%.
Menurut laporan diplomat senior Timur Tengah yang mengetahui jalannya perundingan, AS dan sejumlah negara Eropa tengah memberikan dorongan kuat kepada Oman agar memfasilitasi kesepakatan sementara dengan Iran. Sejalan dengan hal itu, pejabat senior pemerintah Pakistan membeberkan bahwa dokumen kesepakatan mengenai pembukaan Selat Hormuz sudah “hampir rampung.” Sumber yang enggan disebutkan identitasnya tersebut menambahkan bahwa negosiasi berlangsung antara Iran dan Oman dengan mediasi dari Pakistan, serta keterlibatan AS secara tidak langsung.
Gedung Putih Tepis Isu Penipisan Stok Amunisi Militer
Di sisi lain, laporan mengejutkan sempat beredar terkait kondisi persenjataan militer AS. Reuters melaporkan, pihak AS telah menguras sebagian besar stok amunisi rudal jarak jauh Army Tactical Missile System (ATACMS) dan Precision Strike Missile (PrSM). Selain itu, CNN menyebutkan sekitar 80% pencegat sistem pertahanan rudal THAAD milik AS telah terpakai selama konflik berlangsung.
Menanggapi kabar tersebut, Presiden AS Donald Trump menepis tegas kekhawatiran publik. Ia menyatakan, pemerintah AS memiliki persediaan amunisi yang jauh lebih dari cukup. “Kami memiliki pasokan amunisi yang jauh lebih banyak daripada negara mana pun di dunia, bahkan melebihi dari yang kita butuhkan,” tegas Trump. Ia menambahkan, industri pertahanan AS saat ini tengah memroduksi amunisi dan mengekspansi pabrik dalam skala rekor tertinggi.
Juru Bicaranya di Gedung Putih, Anna Kelly, juga menegaskan hal serupa. “Militer AS memiliki pasokan amunisi yang sangat memadai untuk mendukung seluruh target strategis Presiden Trump. Operasi Epic Fury telah membuktikan apa yang terjadi jika ada pihak yang mencoba mengganggu Amerika Serikat,” ujarnya.
Selat Hormuz merupakan jalur perairan sempit yang terletak di antara Iran dan Oman, menghubungkan Teluk Persia dengan Laut Arab. Jalur ini merupakan chokepoint (titik kemacetan strategis) logistik minyak paling penting di dunia, di mana sekitar seperlima (20%) dari total konsumsi minyak mentah global melintas melalui wilayah ini setiap harinya.
Ketegangan di Selat Hormuz melonjak seiring memanasnya konflik militer antara AS dan Iran, yang berdampak langsung pada kelancaran pengiriman minyak dunia dan memicu lonjakan harga energi global. Penutupan atau gangguan pada jalur ini berpotensi memicu krisis energi dan inflasi global. Oleh karena itu, kesepakatan diplomatik untuk menjamin keamanan navigasi kapal komersial di Selat Hormuz menjadi fokus utama komunitas internasional guna menjaga stabilitas ekonomi dunia.
Ikuti Detak Media

Masuk dengan Google untuk ikut berkomentar.