Detak Media — JAKARTA – Komando Pusat Amerika Serikat (AS), CENTCOM, mengonfirmasi telah memblokir jalur dan memaksa 35 kapal niaga untuk mengubah rute pelayaran mereka. Langkah ini merupakan bagian dari operasi blokade laut terhadap pelabuhan-pelabuhan utama Iran.
Melalui rilis resminya di platform X yang dikutip Sputnik pada Senin (3/8/2026), CENTCOM membeberkan selain mengalihkan puluhan rute kapal dagang, militer AS juga melumpuhkan dua kapal serta menggeledah dua kapal lainnya yang dicurigai.
Langkah tegas ini memperpanjang rentetan ketegangan baru antara kedua negara. Padahal, pihak berwenang AS dan Iran sempat menandatangani nota kesepahaman (MoU) pada 18 Juni 2026 guna mengakhiri konflik bersenjata yang meletus sejak 28 Februari 2026. Namun perdamaian singkat itu buyar setelah AS kembali melancarkan serangkaian serangan udara ke wilayah Iran pada 8 Juli 2026.
Pihak CENTCOM mengeklaim serangan udara tersebut diluncurkan sebagai balasan atas tindakan Iran yang memicu gangguan terhadap kapal-kapal komersial di kawasan vital Selat Hormuz.
Saling Balas dan Penutupan Jalur Minyak Dunia
Respons balasan langsung diayunkan pihak militer Iran. Otoritas Iran membalas menggempur sejumlah pangkalan militer AS yang tersebar di wilayah Timur Tengah. Tidak berhenti di situ, pada 12 Juli 2026 pemerintah Iran secara resmi mengumumkan penutupan total Selat Hormuz bagi lalu lintas maritim internasional.
Otoritas Iran menegaskan jalur perdagangan energi dunia itu baru akan dibuka kembali setelah AS menghentikan seluruh bentuk campur tangan militernya di kawasan tersebut. Krisis ini makin meruncing setelah Presiden AS Donald Trump pada 13 Juli 2026 secara terbuka menyatakan pihak AS mengambil alih peran sebagai penjaga perairan Selat Hormuz, sekaligus memberlakukan kembali blokade penuh terhadap pelabuhan-pelabuhan di Iran.
Selat Hormuz merupakan salah satu titik leher (chokepoint) maritim paling krusial di dunia, yang melayani sekitar 20% pasokan minyak dan gas alam cair (LNG) global. Perseteruan panjang antara AS dan Iran kerap menjadikan kawasan perairan ini sebagai panggung perang asimetris dan operasi blokade.
Kebijakan AS yang memberlakukan blokade laut serta respons Iran berupa penutupan akses selat tak hanya meningkatkan risiko benturan militer secara langsung, tetapi juga memberikan guncangan hebat pada pasar energi global, melipatgandakan biaya logistik internasional, dan memicu ancaman inflasi dunia.
Ikuti Detak Media

Masuk dengan Google untuk ikut berkomentar.