— Amerika Serikat (AS) kembali melancarkan serangan udara terhadap wilayah Iran pada Rabu (29/7/2026) malam waktu setempat atau Kamis (30/7/2026) WIB. Langkah ini dilakukan sebagai aksi balasan atas serangan rudal balistik yang diluncurkan pasukan Iran ke pangkalan militer AS di kawasan Timur Tengah.

Komando Pusat AS (CENTCOM) menyatakan operasi militer tersebut merupakan “respons kuat” atas upaya serangan Iran pada Selasa (28/7/2026). Meskipun seluruh rudal balistik yang ditembakkan Korps Garda Revolusi Islam (IRGC) berhasil dicegat, termasuk lima rudal yang dihancurkan pertahanan udara Yordania, AS tetap mengambil tindakan tegas.

“Kami akan membalas mereka dengan keras,” tegas Presiden AS Donald Trump dalam wawancara bersama Fox News sebelum serangan dimulai, Kamis.

Serangan susulan ini mengakhiri jeda pertempuran yang sempat berlangsung selama beberapa hari untuk memberi ruang bagi diplomasi damai.

Eskalasi konflik yang kembali memanas langsung memicu lonjakan harga minyak mentah dunia. Harga minyak mentah jenis Brent melesat 7,9% menjadi US$ 90,74 per barel, sementara jenis West Texas Intermediate (WTI) naik 6,6% ke level US$ 84,46 per barel.

Konflik ini juga terus meluas ke berbagai wilayah Timur Tengah. Pada Selasa (28/7/2026), pasukan gabungan AS dan Arab Saudi menggempur kelompok milisi sekutu Iran di Irak yang menargetkan fasilitas minyak di Riyadh. Sementara itu, kelompok Houthi di Yaman mengklaim bertanggung jawab atas serangan terhadap jaringan pipa minyak Arab Saudi menuju terminal ekspor Laut Merah di Yanbu.

Ketegangan militer antara AS dan Iran yang pecah sejak akhir Februari 2026 terus membayangi stabilitas politik dan ekonomi global.

Selain mengancam jalur pelayaran strategis di Selat Hormuz dan Laut Merah, keterlibatan berbagai aktor regional termasuk milisi di Irak, Arab Saudi, dan kelompok Houthi di Yaman membuat risiko gangguan rantai pasok energi dunia kian meningkat. Ketidakpastian geopolitik ini menjadi pendorong utama lonjakan harga minyak mentah dan inflasi global.