— Nilai tukar rupiah (IDR) kembali menunjukkan pelemahan terhadap dolar Amerika Serikat (USD) pada penutupan perdagangan Kamis, 30 Juli 2026.

Pada penutupan perdagangan sore ini, rupiah tercatat melemah 38 poin atau 0,21% ke posisi Rp 18.111 per dolar AS. Posisi ini merosot dari penutupan sebelumnya yang berada di level Rp 18.073 per dolar AS.

Direktur PT. Traze Andalan Futures, Ibrahim Assuaibi, mengungkapkan bahwa pelemahan rupiah dipicu oleh kemunculan kembali sentimen eksternal terkait konflik Amerika Serikat dan Iran di Timur Tengah. Presiden Donald Trump dilaporkan menyatakan bahwa militer AS akan menyerang Iran sebagai respons atas serangan rudal Iran terhadap pangkalan AS di Yordania.

Selain itu, sentimen mengenai keputusan suku bunga Federal Reserve (The Fed) juga turut melemahkan rupiah. Pada hari Rabu (29/7), The Fed memutuskan untuk mempertahankan suku bunga acuannya dalam kisaran target 3,50% hingga 3,75%. Keputusan ini diambil dengan suara terpecah 9-3, di mana tiga anggota FOMC memilih untuk menaikkan suku bunga dana federal sebesar 25 basis poin.

Dari dalam negeri, rupiah juga terpengaruh oleh ketidakpastian pasar mengenai suksesi pimpinan bank sentral pasca pengunduran diri Perry Warjiyo. Ibrahim menyoroti hal ini dalam keterangannya pada Kamis (30/7/2026).

Sementara itu, para ekonom memproyeksikan pertumbuhan ekonomi Indonesia pada kuartal II/2026 akan berada di kisaran 4,8% hingga 4,9%. Proyeksi ini lebih rendah dibandingkan pertumbuhan ekonomi pada kuartal I/2026 yang mencapai 5,61%.

Adapun proyeksi pertumbuhan ekonomi secara keseluruhan pada tahun 2026 diprediksi berada di kisaran 4,9% hingga 5,1%. Angka proyeksi pertumbuhan tahunan ini juga berada di bawah target pemerintah yang ditetapkan sebesar 5,4%.