Detak Media — Nama Deputi Gubernur Senior Bank Indonesia (BI) Destry Damayanti mencuat sebagai salah satu kandidat kuat untuk menduduki posisi Gubernur BI setelah Perry Warjiyo mengundurkan diri. Menanggapi potensi tersebut, Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto menyatakan bahwa penentuan calon sepenuhnya berada di tangan Presiden Prabowo Subianto. Ia juga menilai sistem kelembagaan BI sudah cukup kuat untuk menjaga keberlangsungan kebijakan.
Selain Destry, beberapa nama lain yang disebut-sebut masuk dalam bursa calon Gubernur BI antara lain Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa, Deputi Gubernur BI Thomas A.M. Djiwandono dan Aida S. Budiman, mantan Ketua Dewan Komisioner Otoritas Jasa Keuangan (OJK) Muliaman D. Hadad, serta mantan Gubernur BI Burhanuddin Abdullah. Namun, daftar tersebut belum resmi dan Presiden Prabowo Subianto belum mengumumkan calon yang akan diajukan kepada Dewan Perwakilan Rakyat (DPR).
Destry menjadi figur yang paling banyak mendapat sorotan di antara nama-nama yang beredar. Saat ini, ia tengah menjalankan tugas sebagai Pejabat Gubernur Sementara BI menggantikan Perry Warjiyo. Ketika dimintai tanggapan mengenai peluang Destry menjadi Gubernur BI definitif, Airlangga tidak memberikan dukungan maupun penolakan secara langsung. “Iya, kita serahkan ke Bapak Presiden,” kata Airlangga saat ditemui di kantornya, Jakarta Pusat, Rabu (29/7/2026).
Airlangga menegaskan bahwa BI memiliki sistem kelembagaan yang kuat, sehingga siapa pun yang nantinya memimpin bank sentral harus mampu menjaga kesinambungan tugas dan kebijakan. “Tetapi kami percaya karena di BI kan sudah ada sistem,” ujarnya.
Menurut Airlangga, pergantian pimpinan BI tidak boleh mengganggu sinergi antara kebijakan fiskal pemerintah dan kebijakan moneter bank sentral. Koordinasi keduanya dinilai sangat penting untuk menjaga stabilitas ekonomi sekaligus mendorong pertumbuhan. “Jadi siapa pun yang duduk di sana selama menjalankan sistem dan juga kerja sama, baik fiskal-moneter, itu akan baik untuk pertumbuhan ekonomi, menekan inflasi, dan menciptakan lapangan kerja,” jelasnya.
Destry dinilai memiliki pengalaman yang memadai untuk menjaga kesinambungan koordinasi tersebut. Ia tidak hanya berkarier di BI, tetapi juga pernah menjabat sebagai anggota Dewan Komisioner Lembaga Penjamin Simpanan (LPS) sebelum akhirnya menjadi Deputi Gubernur Senior BI.
Sebelumnya, Purbaya Yudhi Sadewa juga menanggapi santai kabar yang menyebut dirinya masuk dalam bursa calon pengganti Perry. Menurutnya, isu serupa sudah beberapa kali muncul namun tidak pernah menjadi kenyataan. “Itu mah kalau saya isu abadi, isu masuk ke sana ke sini, aslinya enggak pernah jadi,” ucap Purbaya berseloroh saat ditemui di Kantor LPS, Jakarta, Selasa (28/7/2026).
Menyangkut Destry, Purbaya menilai bahwa Destry bukan sosok baru dalam Komite Stabilitas Sistem Keuangan (KSSK). Ia telah lama terlibat dalam koordinasi antara Kementerian Keuangan, BI, OJK, dan LPS. “KSSK sebetulnya enggak banyak yang ganti. Ibu Destry bukan pemain baru. Dia pemain lama,” kata Purbaya.
Menurutnya, pengalaman Destry di BI dan LPS membuatnya memahami mekanisme koordinasi dalam menjaga stabilitas sistem keuangan. “Jadi dia sudah terlibat dengan proses KSSK sudah cukup lama, bahkan dia dulu pemain ganda di LPS dan BI,” ujarnya. Purbaya menilai Destry memiliki kapasitas untuk menjaga kesinambungan kebijakan moneter selama masa transisi kepemimpinan BI. “Jadi knowledge-nya amat baik dan amat mumpuni untuk memastikan kebijakan moneter berjalan sesuai dengan apa yang seharusnya,” jelasnya.
Meskipun kini memimpin BI sebagai pejabat sementara, Destry tidak otomatis menjadi Gubernur BI definitif. Sesuai Undang-Undang Bank Indonesia, Presiden akan mengusulkan calon Gubernur BI kepada DPR untuk menjalani uji kelayakan dan kepatutan sebelum ditetapkan secara definitif.
Ikuti Detak Media

Masuk dengan Google untuk ikut berkomentar.