Detak Media — Saham PT Adaro Energy Indonesia Tbk (ADRO) terpantau menguat 1,19% ke level Rp 2.550 pada perdagangan Rabu, 5 Agustus 2026. Perdagangan saham ini melibatkan 26,15 juta unit dengan frekuensi 9.014 kali transaksi, menghasilkan nilai total Rp 67,17 miliar. Meskipun demikian, investor asing tercatat melakukan aksi jual bersih (net sell) senilai Rp 5,17 miliar pada saham ini.
Penguatan ini melanjutkan tren positif yang telah terjadi dalam dua hari bursa sebelumnya, yakni 3 dan 4 Agustus, di mana saham ADRO masing-masing naik 0,41% dan 2,02%. Tren positif ini terjadi setelah saham berkode ADRO mengalami tekanan sepanjang pekan sebelumnya, dengan mayoritas perdagangan ditutup di zona merah.
Analis MNC Sekuritas, Raka Junico W, menjelaskan bahwa penguatan ADRO sebesar 1,19% ke Rp 2.550 masih didominasi oleh volume pembelian. Posisi ADRO juga masih mampu bertahan di atas rata-rata pergerakan 20 hari (MA20). MNC Sekuritas merekomendasikan saham ADRO dengan strategi ‘Buy on Weakness’ di kisaran harga Rp 2.480-2.520, dengan menetapkan target harga pertama di Rp 2.600 dan target kedua di Rp 2.700. Level stoploss disarankan di bawah Rp 2.440.
Babak Baru Pertumbuhan Laba ADRO
Sebelumnya, PT Adaro Energy Indonesia Tbk (ADRO) dikabarkan memasuki babak baru pertumbuhan laba, yang ditandai dengan pengiriman perdana produk aluminium. Hal ini juga memunculkan target harga baru untuk saham ADRO.
Melalui anak usahanya, PT Adaro Minerals Indonesia Tbk (ADMR), ADRO melakukan ekspor perdana aluminium sebanyak 35 kiloton (kt) pada Juni 2026. Total volume ekspor ini setara dengan 35.000 ton, dengan rincian 31.500 ton dikirim ke Amerika Serikat dan 3.600 ton ke Korea Selatan.
“Ekspor perdana tersebut menjadi tonggak penting dalam upaya diversifikasi sumber pendapatan ADRO,” tulis Raka dalam risetnya yang dikutip pada Minggu, 19 Juli 2026. Dengan kapasitas awal 500 kiloton per tahun (ktpa) yang berpotensi meningkat hingga 1,5 juta ton per tahun (mtpa), MNC Sekuritas memperkirakan bisnis aluminium ADRO dapat menghasilkan pendapatan tahunan antara US$ 1,5 miliar hingga US$ 4,5 miliar.
Perhitungan ini didasarkan pada asumsi harga jual rata-rata (ASP) aluminium sebesar US$ 3.000 per ton. Akibatnya, MNC Sekuritas menaikkan estimasi laba bersih ADRO pada 2026 sebesar 21% menjadi US$ 612 juta, yang berarti tumbuh 37% secara tahunan. Revisi ini terutama didorong oleh peningkatan estimasi produksi aluminium menjadi 275.000 ton dari sebelumnya 198.000 ton, serta kenaikan asumsi ASP aluminium menjadi US$ 3.000 per ton.
Estimasi pendapatan ADRO tahun ini juga direvisi menjadi US$ 2,8 miliar. Sementara itu, asumsi ASP batu bara kokas dipertahankan sebesar US$ 173 per ton, yang menunjukkan peningkatan 12,5% secara tahunan.
Target Harga Baru ADRO
MNC Sekuritas kembali menegaskan rekomendasi beli untuk saham ADRO dan menaikkan target harganya menjadi Rp 3.300 dari sebelumnya Rp 2.700. Target harga baru ini mencerminkan valuasi EV/EBITDA sebesar 5 kali untuk proyeksi tahun 2026.
“Kami memandang positif prospek ADRO, terutama setelah dimulainya pengiriman aluminium yang akan memperkuat dan memperluas sumber pendapatan perusahaan ke depan,” ujar Raka.
MNC Sekuritas secara konservatif memperkirakan rata-rata pertumbuhan pendapatan tahunan ADRO selama lima tahun (5Y CAGR) mencapai 17%. Dampak lanjutan dari ketegangan geopolitik di Timur Tengah juga diperkirakan akan menjaga harga batu bara tetap tinggi, yang dapat menjadi bantalan bagi margin keuntungan ADRO di tengah potensi kenaikan biaya bahan bakar.
Risiko utama yang dihadapi ADRO meliputi tingkat utilisasi smelter yang lebih rendah dari perkiraan atau turun di bawah 40%, penurunan ASP batu bara kokas hingga di bawah US$ 150 per ton, dan volume pengupasan lapisan penutup (overburden removal) yang lebih rendah dari perkiraan.
Pada kuartal I-2026, ADRO berhasil mencetak laba bersih sebesar US$ 128 juta, melonjak 67% secara tahunan namun turun 12% secara kuartalan. “Capaian tersebut melampaui perkiraan kami dan telah memenuhi 25% dari target laba bersih tahun 2026,” pungkas Raka. Batu bara kokas masih menjadi kontributor utama pendapatan ADRO dengan porsi 56%, sementara ASP batu bara kokas naik 16% menjadi US$ 182,2 per ton dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya.
Ikuti Detak Media

Masuk dengan Google untuk ikut berkomentar.