— Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat tingkat pengangguran terbuka (TPT) Indonesia turun menjadi 4,65% pada Mei 2026. Angka ini merupakan yang terendah sejak tahun 1994. Penurunan ini sejalan dengan berkurangnya jumlah pengangguran menjadi 7,22 juta orang dari total angkatan kerja yang mencapai 155,41 juta orang.

Dari jumlah angkatan kerja tersebut, sebanyak 148,19 juta orang tercatat telah bekerja. Deputi Bidang Neraca dan Analisis Statistik BPS, Moh. Edy Mahmud, mengungkapkan bahwa capaian ini merupakan TPT terendah sejak 1994. Data BPS menunjukkan penambahan jumlah penduduk bekerja sebanyak 522.000 orang pada Februari 2026, sementara jumlah pengangguran berkurang sekitar 24.000 orang.

Meskipun demikian, BPS menegaskan bahwa penurunan tingkat pengangguran tidak dapat serta-merta dikaitkan secara langsung dengan pelaksanaan Program Makan Bergizi Gratis (MBG) maupun Koperasi Desa/Kelurahan Merah Putih (KDKMP). Namun, kedua program tersebut diakui turut mendorong penyerapan tenaga kerja pada sejumlah sektor usaha.

“Jadi kalau secara langsung apakah (penurunan pengangguran) dampak dari MBG atau KDMP? Mungkin tidak bisa terlihat secara langsung, tapi kita bisa melihat adanya peningkatan tenaga kerja pada sektor-sektor yang tadi saya sampaikan (akomodasi dan makan minum),” ujar Edy dalam konferensi pers di Jakarta, Rabu (5/8/2026).

Edy menjelaskan, program MBG telah menggerakkan aktivitas ekonomi melalui peningkatan belanja pemerintah. Berdasarkan data Kementerian Keuangan, realisasi anggaran MBG pada semester I-2026 mencapai Rp 98,8 triliun. Angka ini terdiri atas Rp 54,1 triliun pada triwulan I dan Rp 44,7 triliun pada triwulan II.

Realisasi anggaran pada triwulan II-2026, meskipun lebih rendah dibandingkan triwulan sebelumnya, masih jauh lebih tinggi dibandingkan periode yang sama pada tahun 2025 yang tercatat sebesar Rp 4,47 triliun. “Tentu realisasi belanja pemerintah ini akan berpengaruh terhadap pertumbuhan ekonomi itu sendiri. Karena setiap rupiah yang dibelanjakan pemerintah masuk ke dalam dunia usaha. Dan itu berputar dan akan berdampak positif terhadap pertumbuhan ekonomi,” tambah Edy.

Peningkatan aktivitas ekonomi yang didorong oleh program MBG ini berimplikasi positif terhadap pasar ketenagakerjaan. BPS mencatat sektor penyediaan akomodasi dan makan minum menjadi salah satu sektor yang paling diuntungkan dari meningkatnya cakupan program MBG, selain adanya peningkatan okupansi hotel.

Pada triwulan II-2026, sektor akomodasi dan makan minum tumbuh 10,60% secara tahunan (year on year/yoy). Pertumbuhan ini menjadi yang tertinggi kedua di antara seluruh lapangan usaha, dengan kontribusi 2,77% terhadap produk domestik bruto (PDB). “Penyediaan akomodasi dan makan-minum sebesar 10,60% didorong oleh peningkatan okupansi hotel dan peningkatan jasa boga, sejalan dengan semakin luasnya jangkauan penerima manfaat dari Program Makan Bergizi Gratis atau MBG,” katanya.

Sejalan dengan pertumbuhan tersebut, sektor akomodasi dan makan minum menjadi penyerap tenaga kerja terbesar selama periode Februari hingga Mei 2026. BPS mencatat lapangan usaha ini berhasil menambah sekitar 195.000 pekerja, termasuk pada kegiatan yang berkaitan dengan rantai pasok pangan seperti produksi susu. Penambahan ini merupakan yang terbesar berdasarkan lapangan usaha pada periode tersebut, dengan kontribusi 8,00% terhadap penduduk bekerja.