Detak Media — Industri perbankan nasional tengah menghadapi tantangan dalam mempertahankan profitabilitasnya di tengah era suku bunga tinggi dan biaya dana yang kian mahal. Kondisi ini diprediksi akan mengikis Net Interest Margin (NIM) perbankan di akhir tahun ini.
Publikasi laporan keuangan semester I-2026 sejumlah bank menunjukkan adanya penyusutan NIM. Hal ini disebabkan oleh peningkatan beban bunga bank dan mahalnya biaya dana. Contohnya, NIM PT Bank Mandiri (Persero) Tbk (BMRI) tercatat sebesar 4,37% pada semester I-2026, turun dari 4,63% pada periode yang sama tahun sebelumnya.
Penurunan NIM ini mencerminkan tekanan pada imbal hasil kredit akibat penyesuaian harga yang terus-menerus, terutama pada portofolio korporasi dan mikro, serta payroll. Peningkatan biaya pendanaan yang terjadi hanya sedikit terimbangi.
Kenaikan suku bunga Bank Indonesia (BI Rate) yang lebih tinggi, ditambah dengan imbal hasil Surat Berharga Republik Indonesia (SRBI) yang juga tinggi, memperketat likuiditas sistem perbankan. Hal ini memicu persaingan pendanaan yang semakin meningkat. Sementara itu, penyesuaian harga kredit yang kompetitif turut menekan NIM perseroan. Tantangan ini membuat BMRI merevisi target NIM tahun ini menjadi 4,3-4,5%, dari target sebelumnya 4,5-4,7%.
Analis Indo Premier Sekuritas, Jovent Muliadi dan Axel Azriel, menjelaskan bahwa NIM BMRI yang lebih rendah disebabkan oleh ketatnya likuiditas dan diperkirakan akan berlanjut pada kuartal III-2026. NIM konsolidasi turun 25 basis poin (year-on-year) menjadi 4,6% di semester I-2026. Penurunan ini terjadi karena imbal hasil pinjaman terkoreksi 74 bps (year-on-year) yang mengimbangi peningkatan biaya dana sebesar 43 bps (year-on-year).
“Oleh karena itu BMRI merevisi guidance NIM full year 2026 menjadi 4,3-4,5% karena perusahaan memperkirakan kondisi likuiditas yang lebih ketat akan berlanjut di kuartal ketiga,” tulis kedua analis tersebut.
PT Bank Central Asia Tbk (BBCA) juga mengalami penyusutan NIM pada paruh pertama 2026. NIM BBCA tercatat sebesar 5,3%, turun dari 5,8% pada tahun sebelumnya. Hingga akhir tahun ini, BCA menargetkan NIM berada di kisaran 5,4-5,6%.
Direktur BCA Vera Eve Lim menjelaskan, penurunan NIM terjadi seiring dengan kenaikan suku bunga acuan hingga 100 bps sejak Mei-Juni. Namun, sebelum itu, sejak awal 2025 terjadi penurunan suku bunga kredit yang masih berlangsung hingga kuartal I-2026.
“Jadi NIM kami turun 50 bps (year-on-year), kalau kuartalan turun 10 bps, ini dampak dari persaingan, pertumbuhan, dan sebagainya,” jelas Vera.
Jovent dan Axel menambahkan, meskipun imbal hasil aset BCA mulai meningkat secara kuartalan, NIM konsolidasi turun 50 bps ke level 5,3%, lebih rendah dari proyeksi tahun ini. Hal ini disebabkan oleh penurunan imbal hasil aset, sementara biaya dana tetap naik secara kuartalan.
PT Bank Tabungan Negara (Persero) Tbk (BTN) juga mencatat penurunan NIM menjadi 3,5% pada semester I-2026, dibandingkan 4,4% pada tahun sebelumnya. Analis Indo Premier Sekuritas memperkirakan tekanan NIM BTN akan tetap ada, namun prospek pada semester II diperkirakan membaik didukung oleh portofolio pensiun.
“Secara kuartalan NIM turun 12 bps karena cost of fund naik 10 bps. Kami memperkirakan cost of fund akan tetap tinggi pada kuartal III dan membaik pada kuartal keempat, hal ini akan diimbangi oleh portofolio kredit pensiun,” jelas kedua analis tersebut.
Efisiensi dan Selektif
Menanggapi penyusutan NIM perbankan, Chief Economist Perhimpunan Bank Nasional (Perbanas) Winang Budoyo menyatakan, secara fundamental industri perbankan masih tergolong kuat. Namun, biaya dana mulai mengalami peningkatan pasca-kenaikan BI Rate menjadi 5,75% pada Mei-Juni lalu. Imbal hasil SRBI yang mencapai 7,18% turut menekan profitabilitas perbankan.
Return on asset (ROA) dan capital adequacy ratio (CAR) perbankan mulai mengalami penurunan seiring normalisasi suku bunga. “Fundamental perbankan masih kuat, namun ruang untuk mempertahankan profitabilitas semakin terbatas. Oleh karena itu, bank harus memperhatikan efisiensi dan kualitas penyaluran kredit,” kata Winang.
Selain laba, kualitas kredit juga menunjukkan tekanan. Rasio kredit bermasalah (non performing loan/NPL) gross memang sedikit turun dibandingkan beberapa tahun terakhir, namun secara year-to-date justru meningkat dari 2,05% pada akhir 2025 menjadi 2,17% pada Mei 2026. Menurut Winang, kenaikan ini menjadi sinyal bahwa industri perlu lebih berhati-hati menghadapi perlambatan ekonomi.
Presiden Direktur PT Bank CIMB Niaga Tbk (BNGA) Lani Darmawan menilai, tantangan perbankan saat ini adalah biaya dana yang semakin mahal. Hal ini akan berdampak pada pertumbuhan kredit yang diperkirakan lebih tertahan, karena perseroan tidak akan langsung menaikkan bunga kredit ke semua nasabah dan akan lebih selektif.
Dengan biaya dana yang makin mahal, akan berujung pada penyusutan margin bunga bersih (NIM) bank. Hal ini terjadi karena bank lebih selektif dalam menaikkan bunga untuk menjaga kualitas kredit. “Akan tidak seragam, karena tergantung dari total relationship. Kami tidak pukul rata,” ucap Lani.
PT OCBC NISP Tbk juga mencatat penurunan NIM dari 4% pada semester I-2025 menjadi 3,9% pada semester I tahun ini. PT Bank Danamon Indonesia Tbk pun mengalami penyusutan NIM ke level 8,1% dari 8,5% pada tahun lalu.
Ikuti Detak Media

Masuk dengan Google untuk ikut berkomentar.