Detak Media — Ketidakpastian global, dinamika pasar keuangan, fluktuasi nilai tukar, dan inflasi diprediksi akan terus membayangi perekonomian pada 2026. Kondisi ini menghadirkan tantangan utama bagi segmen affluent dan high-net-worth (HNW), yang memiliki pendapatan bruto di atas Rp900 juta per tahun. Tantangan tersebut meliputi pertumbuhan aset dan upaya menjaga nilainya agar tetap berkelanjutan, menjadikan perencanaan warisan atau legacy planning sebagai komponen krusial dalam pengelolaan keuangan jangka panjang.
Di tengah dinamika ekonomi yang kompleks, perencanaan legacy perlu diimbangi dengan strategi diversifikasi. Diversifikasi tidak hanya mencakup berbagai jenis aset, tetapi juga dapat dilakukan dalam mata uang yang berbeda, salah satunya adalah dolar Amerika Serikat (US$). Dalam kurun waktu 10 tahun terakhir, nilai tukar US$ terhadap Rupiah tercatat mengalami peningkatan signifikan sekitar 38%. Angka ini menunjukkan pergeseran dari Rp13.238 per US$ pada Juli 2016 menjadi Rp18.221,65 per US$ pada Juli 2026, yang setara dengan rata-rata pertumbuhan sekitar 3,25% per tahun. Pergerakan nilai tukar ini menegaskan pentingnya mempertimbangkan dinamika mata uang asing dalam merencanakan kebutuhan finansial jangka panjang.
Certified Financial Planner (CFP) Prudential Indonesia, Priskilla Fachruddin, menekankan urgensi perencanaan legacy. Menurutnya, keluarga perlu memikirkan cara agar hasil kerja keras mereka dapat terus memberikan manfaat bagi generasi berikutnya melalui perencanaan yang matang dan menyeluruh.
“Dalam mempersiapkan legacy, memiliki aset saja belum tentu cukup untuk memastikan masa depan keluarga tetap terlindungi. Berbagai perubahan kondisi ekonomi, termasuk inflasi dan dinamika nilai tukar, serta risiko tak terduga dapat memengaruhi rencana finansial yang telah dipersiapkan. Karena itu, keluarga perlu mempertimbangkan diversifikasi, termasuk melalui aset dan perlindungan dalam mata uang US$, agar hasil kerja keras dapat terus memberikan manfaat dan kepastian finansial bagi generasi berikutnya,” ujar Priskilla dalam keterangan tertulisnya pada Kamis (30/7/2026).
Priskilla membagikan sejumlah tips perencanaan keuangan yang dapat menjadi pertimbangan keluarga dalam menjaga keberlanjutan manfaat hasil kerja keras bagi generasi mendatang:
Tentukan Tujuan Legacy Sejak Awal
Bagi banyak keluarga mapan, legacy tidak hanya sebatas kekayaan materi, tetapi juga mencakup nilai, tujuan, dan dampak yang ingin ditinggalkan. Ini bisa berupa memastikan bisnis keluarga terus berkembang, menjaga kualitas hidup, memenuhi kebutuhan pendidikan generasi penerus, hingga mewariskan aset secara terencana. Menentukan tujuan legacy sejak awal akan membantu keluarga menyusun perencanaan yang lebih terarah dan spesifik.
Perhitungkan Perubahan Nilai Kekayaan Jangka Panjang
Inflasi, pergerakan nilai tukar, dan perubahan kondisi ekonomi secara umum dapat memengaruhi nilai riil kekayaan dari waktu ke waktu. Oleh karena itu, perencanaan legacy perlu dievaluasi secara berkala untuk memastikan aset yang dimiliki tetap relevan dan mencukupi kebutuhan generasi berikutnya di masa depan.
Lakukan Diversifikasi Aset dan Mata Uang
Ketergantungan pada satu jenis aset atau satu mata uang tunggal dapat meningkatkan risiko finansial. Diversifikasi membantu keluarga dalam mengelola berbagai risiko yang timbul dari perubahan kondisi ekonomi. Pertimbangan untuk memiliki aset dan perlindungan dalam mata uang berbeda, seperti US$, dapat menjadi bagian penting dari strategi diversifikasi ini.
Lengkapi Perencanaan Legacy dengan Perlindungan yang Memadai
Perlindungan jiwa atau asuransi jiwa merupakan elemen penting dalam menjaga keberlangsungan rencana finansial, terutama ketika menghadapi risiko tak terduga. Dengan perlindungan yang memadai, legacy yang telah dipersiapkan dapat tetap memberikan manfaat, perlindungan, dan kepastian finansial bagi generasi penerus.
Chief Product Officer Prudential Indonesia, Astono Hermawan, menambahkan bahwa langkah-langkah tersebut dapat membantu legacy yang telah dipersiapkan tetap memberikan manfaat bagi generasi berikutnya. “Guna membantu masyarakat menjaga keberlanjutan rencana yang telah dibangun bagi generasi berikutnya sekaligus mempersiapkan kepastian finansial, Prudential Indonesia menghadirkan Asuransi Jiwa PRUFuture, solusi perlindungan jiwa berbasis US$,” ujar Astono.
Melalui sebuah ilustrasi, Astono menjelaskan bahwa Andi (35), yang ingin mempersiapkan legacy bagi keluarganya, dapat mempertimbangkan PRUFuture dengan Uang Pertanggungan sebesar US$280.000. Dengan masa pembayaran premi selama lima tahun, Andi dapat membayarkan premi tahunan sebesar US$7.718 untuk Plan Basic atau US$7.757 untuk Plan Waiver, yang mencakup Manfaat Bebas Premi jika Tertanggung terdiagnosa salah satu dari 60 Kondisi Kritis dalam Masa Pembayaran Premi. Ilustrasi ini menunjukkan bahwa perencanaan legacy dapat dimulai sejak usia produktif sebagai bagian dari strategi perlindungan finansial jangka panjang.
“Pada akhirnya, tujuan yang jelas, diversifikasi yang tepat, perencanaan suksesi yang matang, dan perlindungan yang memadai dapat menjadi fondasi yang memperkuat kesejahteraan keluarga lintas generasi,” pungkas Astono.
Ikuti Detak Media

Masuk dengan Google untuk ikut berkomentar.