Detak Media — JAKARTA – Reli saham PT Bach Multi Global Tbk (BACH), salah satu emiten Grup Djarum, dalam beberapa waktu terakhir berhasil menarik perhatian pelaku pasar. Sejak penawaran umum perdana (IPO) di harga Rp 442 per saham, saham BACH kini melonjak hingga Rp 880 pada penutupan Jumat (31/7/2026), mencatatkan kenaikan 99%.
Volume transaksi saham BACH juga mengalami lonjakan signifikan dalam tiga hari bursa terakhir. Pada 29 Juli, nilai transaksi sahamnya mencapai Rp 233,8 miliar, disusul Rp 463,69 miliar pada 30 Juli, dan Rp 384,29 miliar pada 31 Juli. Sepanjang pekan ini, saham BACH konsisten ditutup di zona hijau.
Di tengah meningkatnya minat investor terhadap emiten ini, prospek sektor infrastruktur telekomunikasi dinilai masih sangat menjanjikan. Hal ini didorong oleh transformasi digital yang terus berjalan, pengembangan jaringan 5G, serta peningkatan kebutuhan akan layanan berbasis artificial intelligence (AI) dan cloud computing.
Prospek Cerah Sektor Telekomunikasi
Pengamat CORE Indonesia, Dipo Satria Ramli, menyatakan bahwa peluang pertumbuhan sektor infrastruktur telekomunikasi masih sangat besar dalam tiga hingga lima tahun ke depan. Menurutnya, kebutuhan pembangunan menara telekomunikasi maupun jaringan fiber optic masih tinggi seiring terus meningkatnya kebutuhan pelanggan maupun korporasi.
“Masih besar 3-5 tahun ke depan, kebutuhan untuk tower dan fiber optic masih tinggi karena kebutuhan customer dan corporate yang terus meningkat,” ujarnya kepada media dikutip Sabtu (1/8/2026).
Dipo menjelaskan bahwa transisi dari jaringan 4G menuju 5G memerlukan densitas menara yang lebih tinggi melalui pembangunan microcells. Selain itu, kondisi geografis Indonesia sebagai negara kepulauan menghadirkan tantangan sekaligus peluang bagi industri ini.
Ia menambahkan, kebutuhan terhadap infrastruktur dasar seperti listrik, menara telekomunikasi, jaringan serat optik, hingga kabel bawah laut, masih menjadi kebutuhan utama. Peningkatan penggunaan internet, AI, dan cloud computing akan menjadi faktor pendorong utamanya.
Menurut Dipo, sektor pendukung telekomunikasi memiliki peran yang sangat strategis. “Sangat strategis karena mereka adalah penentu keandalan dan keberlanjutan infrastruktur telekomunikasi dan ekonomi digital,” sebutnya.
Ia menekankan bahwa pasokan listrik yang belum stabil serta jaringan fiber optic yang belum terintegrasi di beberapa daerah membuat peran perusahaan pendukung menjadi sangat penting di Indonesia. “Tanpa reliability dari internet dan telekomunikasi, ekonomi digital tidak bisa terbangun,” tegasnya.
Keandalan Sistem Daya Menjadi Prioritas
Secara terpisah, Ketua Pusat Kajian Kebijakan dan Regulasi Telekomunikasi Institut Teknologi Bandung (ITB), Ian Yosef M. Edward, menyatakan bahwa ketersediaan sistem daya dan keandalannya menjadi prioritas utama dalam pembangunan Base Transceiver Station (BTS).
“Pemilihan pemasangan BTS yang pertama dilihat ketersediaan sistem daya dan keandalannya. Jadi merupakan prioritas utama dalam pembangunan infrastruktur BTS,” ujarnya.
Ian menjelaskan konsep redundansi atau sistem cadangan dapat berupa satu sumber listrik PLN dengan satu genset cadangan, maupun kombinasi PLN, baterai, dan genset untuk menjamin tingkat ketersediaan daya listrik yang optimal.
Masuknya Grup Djarum Jadi Katalis
Pengamat Pasar Modal, Menteng Kleb Fauzan Luthsa, memberikan gambaran mengenai alasan emiten di sektor pendukung telekomunikasi mendapat perhatian besar dari investor. Menurutnya, meningkatnya perhatian terhadap BACH juga tidak terlepas dari masuknya Grup Djarum melalui PT Global Teknologi Perkasa (GTP) sebagai pemegang saham pengendali perseroan.
“Masuknya Grup Djarum memang menjadi katalis yang meningkatkan perhatian investor terhadap BACH. Namun, saya melihat pasar juga mulai memahami model bisnis perseroan secara lebih utuh,” sebutnya.
Ia menambahkan, selama ini banyak investor mengenal BACH sebagai perusahaan genset. Padahal, jika melihat prospektusnya, perseroan menangani sekitar 41.000 site telekomunikasi. Artinya, BACH sudah menjadi bagian dari ekosistem infrastruktur telekomunikasi. “Menurut saya, pemahaman inilah yang mulai berkembang di pasar,” katanya.
“Pada akhirnya pasar tetap akan melihat kinerja perusahaan. Namun, perubahan cara pandang terhadap model bisnis BACH menjadi salah satu faktor yang ikut mendorong meningkatnya perhatian investor,” pungkasnya.
Ikuti Detak Media

Masuk dengan Google untuk ikut berkomentar.