Detak Media — Saham PT Bank Rakyat Indonesia Tbk (BBRI) menunjukkan performa positif dengan menguat 2,40% ke level Rp 2.990 pada perdagangan Kamis, 30 Juli 2026. Pergerakan ini membalikkan tren pelemahan yang terjadi sejak 22 hingga 29 Juli 2026.
Dalam perdagangan tersebut, sebanyak 220,55 juta saham BBRI berpindah tangan melalui 28.148 frekuensi transaksi, dengan nilai total mencapai Rp 656,28 miliar. Meskipun demikian, investor asing tercatat melakukan aksi jual bersih (net sell) senilai Rp 37,01 miliar pada saham ini.
MNC Sekuritas menyoroti saham BBRI untuk perdagangan keesokan harinya, Jumat, 31 Juli 2026. Analis MNC Sekuritas mencatat bahwa penguatan saham BBRI kemarin disertai dengan volume pembelian yang signifikan dan berhasil menembus di atas rata-rata pergerakan harga 60 hari (MA60).
Oleh karena itu, MNC Sekuritas merekomendasikan strategi buy on weakness untuk saham BBRI pada kisaran harga Rp 2.950-2.980. Target harga pertama ditetapkan di Rp 3.080, dengan target kedua di Rp 3.190. Pihaknya juga menyarankan penempatan stoploss di bawah Rp 2.940 untuk memitigasi risiko.
Pergerakan positif saham BBRI ini didukung oleh kinerja keuangan perusahaan yang solid. PT Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk (BBRI) dan entitas anak berhasil membukukan laba bersih yang dapat diatribusikan kepada pemilik sebesar Rp 15,5 triliun pada kuartal I-2026. Angka ini menunjukkan peningkatan 14% secara tahunan (year on year/yoy).
BRI Danareksa Sekuritas (BRIDS) dalam analisis terbarunya mengonfirmasi bahwa kinerja BBRI pada kuartal I-2026 sejalan dengan ekspektasi dan menunjukkan kualitas yang sehat. BRIDS mencatat bahwa Net Interest Margin (NIM) tetap resilien meskipun ada tekanan pada biaya dana (Cost of Funds/CoF), sementara Cost of Credit (CoC) menurun signifikan. Pertumbuhan dari segmen wholesale berhasil mengkompensasi pelemahan di segmen konsumen.
BRIDS menjelaskan bahwa perubahan strategi utama BBRI adalah pergeseran mesin pertumbuhan dari segmen mikro dan konsumen ke segmen korporasi dan komersial. Strategi ini bertujuan untuk melindungi kualitas aset, meskipun berpotensi menekan margin dalam jangka panjang karena corporate loan yield yang lebih rendah.
Menurut BRIDS, rasio Price to Book Value (PBV) BBRI saat ini berada di 1,4x dengan Return on Equity (ROE) di atas 18% dan dividend yield 10-12%. Angka ini dianggap sebagai anomali historis yang signifikan, menunjukkan bahwa pasar cenderung memperhitungkan skenario bearish yang belum terealisasi.
BRIDS menambahkan bahwa dividend yield sebesar 10-12% mendekati imbal hasil Surat Berharga Negara (SBN). Oleh karena itu, setiap koreksi harga saham BBRI justru akan membuat yield menjadi lebih menarik. Untuk tahun buku 2025, BBRI telah membagikan dividen total sebesar Rp 52,10 triliun atau Rp 345 per saham, yang terdiri dari dividen interim Rp 20,63 triliun (Rp 137 per saham) dan dividen final Rp 31,47 triliun (Rp 209 per saham).
Ikuti Detak Media

Masuk dengan Google untuk ikut berkomentar.