— JAKARTA – Saham PT Bach Multi Global Tbk (BACH), emiten yang terafiliasi dengan Grup Djarum, mengalami penurunan drastis pada sesi I perdagangan Selasa (4/8/2026). Harga saham emiten ini anjlok 14,78% ke level Rp 865, menyentuh batas auto reject bawah (ARB).

Perdagangan saham BACH pada sesi I hari ini mencatatkan frekuensi sebanyak 18.159 kali dengan total nilai transaksi mencapai Rp 151,31 miliar. Sebanyak 153,54 juta saham telah berpindah tangan. Antrean jual saham BACH terlihat membeludak, tercatat 729.286 lot saham siap dijual pada harga Rp 865 menjelang jeda siang.

Penurunan tajam ini terjadi setelah saham BACH sebelumnya menunjukkan tren positif. Dalam periode 27 Juli 2026 hingga 3 Agustus 2026, saham ini nyaman berada di zona hijau. Sebelumnya, saham BACH yang baru melantai di Bursa Efek Indonesia (BEI) pada 8 Juli 2026 dengan harga penawaran umum perdana (IPO) Rp 442, tercatat sempat melesat 129% dari harga IPO hingga penutupan perdagangan Senin (3/8/2026).

Kenaikan saham BACH dalam beberapa waktu terakhir memang menarik perhatian pasar. Minat investor terhadap emiten ini meningkat seiring dengan prospek sektor infrastruktur telekomunikasi yang dinilai masih menjanjikan. Prospek ini didorong oleh transformasi digital, pengembangan jaringan 5G, serta meningkatnya kebutuhan layanan berbasis artificial intelligence (AI) dan cloud computing.

Pengamat CORE Indonesia, Dipo Satria Ramli, mengungkapkan bahwa peluang pertumbuhan sektor infrastruktur telekomunikasi masih sangat besar dalam tiga hingga lima tahun ke depan. Ia menekankan tingginya kebutuhan pembangunan menara telekomunikasi dan jaringan fiber optic seiring terus meningkatnya permintaan dari pelanggan maupun korporasi.

“Masih besar 3-5 tahun ke depan, kebutuhan untuk tower dan fiber optic masih tinggi karena kebutuhan customer dan corporate yang terus meningkat,” ujar Dipo kepada media dikutip Sabtu (1/8/2026).

Dipo menambahkan bahwa transisi dari jaringan 4G ke 5G memerlukan densitas menara yang lebih tinggi melalui pembangunan microcells. Selain itu, kondisi geografis Indonesia sebagai negara kepulauan juga menghadirkan tantangan sekaligus peluang bagi industri ini.

Kebutuhan akan infrastruktur dasar seperti listrik, menara telekomunikasi, jaringan serat optik, hingga kabel bawah laut, masih menjadi prioritas utama. Faktor pendorongnya adalah meningkatnya penggunaan internet, AI, dan cloud computing. Dipo menilai sektor pendukung telekomunikasi memegang peran yang sangat strategis dalam menentukan keandalan dan keberlanjutan infrastruktur telekomunikasi serta ekonomi digital.

Ia menyoroti pentingnya peran perusahaan pendukung di Indonesia, mengingat pasokan listrik yang belum stabil dan jaringan fiber optic yang belum terintegrasi di beberapa daerah. “Tanpa reliability dari internet dan telekomunikasi, ekonomi digital tidak bisa terbangun,” tegasnya.

Secara terpisah, Ketua Pusat Kajian Kebijakan dan Regulasi Telekomunikasi Institut Teknologi Bandung (ITB), Ian Yosef M. Edward, menyatakan bahwa ketersediaan dan keandalan sistem daya menjadi prioritas utama dalam pembangunan Base Transceiver Station (BTS). Konsep redundansi atau sistem cadangan, baik kombinasi PLN dengan genset atau sumber daya lainnya, sangat krusial untuk menjamin ketersediaan daya listrik.

Sementara itu, Pengamat Pasar Modal Menteng Kleb Fauzan Luthsa menjelaskan bahwa perhatian investor terhadap emiten di sektor pendukung telekomunikasi, termasuk BACH, juga tidak terlepas dari masuknya Grup Djarum melalui PT Global Teknologi Perkasa (GTP) sebagai pemegang saham pengendali. “Masuknya Grup Djarum memang menjadi katalis yang meningkatkan perhatian investor terhadap BACH. Namun, saya melihat pasar juga mulai memahami model bisnis perseroan secara lebih utuh,” ungkapnya.

Fauzan menambahkan bahwa selama ini banyak investor mengenal BACH sebagai perusahaan genset. Padahal, menurut prospektusnya, perseroan menangani sekitar 41.000 site telekomunikasi, menjadikannya bagian integral dari ekosistem infrastruktur telekomunikasi. “Pemahaman inilah yang mulai berkembang di pasar,” katanya.

“Pada akhirnya pasar tetap akan melihat kinerja perusahaan. Namun, perubahan cara pandang terhadap model bisnis BACH menjadi salah satu faktor yang ikut mendorong meningkatnya perhatian investor,” pungkasnya.