— JAKARTA – Pakar memprediksi tren pelemahan nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat akan berlanjut pada perdagangan Kamis, 6 Agustus 2026. Prediksi ini muncul setelah rupiah berhasil menguat tipis pada penutupan perdagangan Rabu sore (5/8/2026).

Pada penutupan perdagangan Rabu, rupiah tercatat menguat 94 poin atau 0,52% ke level Rp 17.933 per dolar AS. Penguatan ini sedikit memperbaiki posisi dari penutupan sebelumnya yang berada di Rp 18.027 per dolar AS.

“Untuk perdagangan besok, mata uang rupiah akan fluktuatif namun diprediksi melemah di rentang Rp 17.930 – Rp 17.980 per dolar AS,” ungkap Direktur PT. Traze Andalan Futures, Ibrahim Assuaibi, dalam keterangannya pada Rabu (5/8/2026).

Menurut Ibrahim, rupiah masih rentan terhadap pelemahan meskipun ketegangan antara Amerika Serikat dan Iran telah mereda. Pernyataan Qatar pada Selasa yang menyebutkan kemajuan dalam upaya mengakhiri perang sempat mendorong penurunan harga minyak dunia.

Lebih lanjut, rupiah diprediksi kembali tertekan saat para pengamat kebijakan moneter global memantau data pasar tenaga kerja Amerika Serikat. Data ini akan memberikan sinyal lebih jelas mengenai prospek suku bunga Federal Reserve ke depan. Para pelaku pasar juga menanti rilis data Perubahan Ketenagakerjaan ADP AS dan Nonfarm Payrolls (NFP) yang dijadwalkan pada Jumat (7/8).

Dari dalam negeri, pelemahan rupiah juga dipicu oleh laporan Badan Pusat Statistik (BPS) mengenai pertumbuhan ekonomi Indonesia. BPS mencatat pertumbuhan ekonomi Indonesia mencapai 5,29% secara tahunan (year on year/YoY) pada kuartal II/2026, angka ini lebih rendah dibandingkan kuartal I/2026 yang mencapai 5,61%.

“Perlambatan ini dipicu tekanan dari tingginya biaya produksi akibat gejolak global, pengetatan kebijakan moneter, hingga ketidakpastian tata kelola fiskal di dalam negeri,” jelas Ibrahim.