Detak Media — Badan Gizi Nasional (BGN) menghentikan sementara operasional dapur Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) Karangturi, Kota Semarang, setelah ratusan siswa dan guru SMKN 6 Semarang mengalami gejala yang diduga akibat mengonsumsi makanan dari Program Makan Bergizi Gratis (MBG).
Keputusan penghentian sementara operasional atau suspend dilakukan sebagai langkah antisipasi selama proses investigasi berlangsung. BGN menegaskan bahwa keselamatan para penerima manfaat menjadi prioritas utama sebelum dapur kembali dioperasikan.
Berdasarkan data sementara dari Dinas Kesehatan Kota Semarang, sebanyak 707 orang dilaporkan mengalami gejala seperti mual, muntah, diare, dan lemas. Jumlah tersebut terdiri dari 693 siswa dan 14 guru.
BGN Hentikan Operasional Dapur SPPG Karangturi
Koordinator Kantor Pelayanan Pemenuhan Gizi (KPPG) Semarang, Hadi Riajaya, mengatakan keputusan menghentikan sementara operasional dapur diambil setelah dilakukan investigasi lintas sektor pada Jumat, 31 Juli 2026.
Investigasi tersebut melibatkan berbagai pihak, mulai dari KPPG Semarang, Koordinator Regional Jawa Tengah, Koordinator Wilayah Kota Semarang, Koordinator Kecamatan Semarang, Babinsa, Polrestabes Semarang, hingga Dinas Kesehatan Kota Semarang.
Menurut Hadi, penghentian sementara dilakukan agar seluruh proses penyelidikan dapat berjalan maksimal sekaligus memastikan keamanan makanan yang disalurkan kepada para penerima manfaat.
BGN juga terus memantau perkembangan kondisi para siswa yang sempat mendapatkan penanganan di puskesmas maupun rumah sakit.
Investigasi Telusuri Seluruh Proses Pengolahan Makanan
Tim investigasi tidak hanya memeriksa kondisi para korban, tetapi juga menelusuri seluruh tahapan pengolahan makanan di dapur SPPG Karangturi.
Berdasarkan hasil pemeriksaan awal, bahan baku makanan diterima pada Rabu, 29 Juli 2026, mulai pukul 13.00 WIB hingga 17.30 WIB. Bahan yang diterima meliputi ayam, tahu, sayuran, buah, serta berbagai bumbu masakan.
Setelah diterima, seluruh bahan disimpan sesuai prosedur di gudang basah dan lemari pembeku sebelum diproses.
Persiapan makanan dimulai sekitar pukul 18.55 WIB dengan mencuci bahan, mengukus tahu, dan melakukan marinasi ayam selama kurang lebih satu jam. Setelah itu ayam digoreng hingga seluruh proses selesai sekitar pukul 23.50 WIB.
Memasuki Kamis, 30 Juli 2026, proses memasak kembali dilanjutkan sejak pukul 00.30 WIB. Petugas memasak bumbu rendang, tahu, dan sayuran sebelum makanan menjalani uji kualitas oleh tenaga ahli gizi.
Sekitar pukul 04.00 WIB dilakukan uji organoleptik serta pengukuran gramasi guna memastikan kualitas makanan sesuai standar. Setelah dinyatakan layak, makanan dikemas dan didistribusikan ke sekolah dalam dua tahap, yakni pukul 06.00 WIB dan 08.10 WIB.
Laporan Keluhan Baru Diterima Sehari Setelah Distribusi
SPPG Karangturi baru menerima laporan adanya keluhan kesehatan dari pihak sekolah pada Jumat, 31 Juli 2026, sekitar pukul 09.40 WIB.
Para siswa dilaporkan mengalami gangguan pencernaan berupa mual, muntah, diare, dan tubuh terasa lemas setelah mengonsumsi menu Program Makan Bergizi Gratis.
Hingga kini, BGN belum dapat memastikan penyebab pasti munculnya gejala tersebut. Seluruh sampel makanan serta tahapan distribusi masih diperiksa sebagai bagian dari investigasi lintas sektor.
Operasional dapur tetap dihentikan sementara hingga seluruh hasil pemeriksaan selesai dan menjadi dasar penentuan langkah selanjutnya.
Kondisi Siswa Berangsur Membaik
Kepala SMKN 6 Semarang, Berti Sagendra, mengungkapkan sebanyak 42 siswa sempat menjalani perawatan di puskesmas maupun rumah sakit.
Seiring berjalannya waktu, kondisi para siswa terus menunjukkan perkembangan positif. Sebagian besar telah diperbolehkan pulang dan menjalani pemulihan secara rawat jalan.
Berdasarkan pembaruan data pada Sabtu siang, hanya satu siswa dari kelas X Kuliner yang masih menjalani perawatan di rumah sakit. Sementara siswa lain yang sebelumnya dirawat telah diperbolehkan pulang karena kondisinya membaik.
Pihak sekolah bersama wali kelas juga terus berkoordinasi dengan orang tua untuk memperbarui kondisi kesehatan seluruh siswa yang terdampak.
Sebagian Besar Pasien Sudah Dipulangkan
Dari total 707 orang yang mengalami gejala, sebagian besar memperoleh penanganan langsung di lokasi. Sementara itu, beberapa siswa dirujuk ke sejumlah fasilitas kesehatan, antara lain Puskesmas Halmahera, RSUD KRMT Wongsonegoro, RST Bhakti Wira Tamtama, dan Puskesmas Bangetayu.
Kepala UPTD Puskesmas Halmahera, dr. Turi Setyawati, menyampaikan bahwa pihaknya sempat menangani enam siswa yang mengalami diare, mual, dan lemas.
Seluruh pasien tersebut kini telah diperbolehkan pulang setelah kondisi mereka dinyatakan stabil dan tidak lagi menunjukkan keluhan yang berarti.
Menurutnya, pasien dipulangkan secara bertahap sejak Jumat sore hingga malam hari setelah menjalani observasi oleh tim medis.
Operasional Dapur Menunggu Hasil Investigasi
Hingga Sabtu, proses investigasi masih terus dilakukan oleh tim gabungan untuk mengetahui penyebab pasti dugaan keracunan tersebut.
BGN menegaskan belum dapat memastikan kapan dapur SPPG Karangturi akan kembali beroperasi. Keputusan tersebut sepenuhnya bergantung pada hasil pemeriksaan lintas sektor yang sedang berlangsung.
Melalui langkah penghentian sementara ini, BGN berharap proses evaluasi dapat berjalan menyeluruh sehingga keamanan dan kualitas Program Makan Bergizi Gratis tetap terjaga. Pemerintah juga memastikan pemantauan terhadap kondisi kesehatan para siswa akan terus dilakukan hingga seluruh penerima manfaat benar-benar pulih.
Ikuti Detak Media

Masuk dengan Google untuk ikut berkomentar.