Detak Media — Degradasi tanah pertanian yang terus terjadi salah satunya disebabkan oleh ketergantungan pada pupuk kimia. Meskipun tanah mungkin memiliki kandungan nutrisi makro yang tinggi, namun minimnya mikroba dan rusaknya ekosistem tanah akibat residu kimia berlebih dapat menurunkan produktivitas tanaman secara signifikan.
Untuk memulihkan kesehatan tanah, peran bioteknologi menjadi sangat krusial. Freddy Wijaya, Founder Pupuk Dinosaurus, menjelaskan bahwa pupuk hayati ini mengandung 18 jenis mikroba yang memiliki berbagai fungsi penting. Beberapa mikroba tersebut bertugas sebagai pemecah unsur hara, penambat nitrogen, penghasil enzim pertumbuhan, hingga penghalau patogen penyebab penyakit tanaman. Contoh mikroba yang terkandung di antaranya adalah Azotobacter sp, Azospirillum sp, dan Streptomyces sp.
“Dengan berbagai kelebihannya, penggunaan Pupuk Hayati Dinosaurus tidak hanya dapat memulihkan kondisi kesehatan tanah, namun juga dapat menekan biaya produksi di lapangan, serta meningkatkan hasil panen hingga 30%,” ujar Freddy dalam keterangan tertulisnya di Jakarta, Jumat (31/7/2026).
Mengingat peran vital industri pertanian bagi Indonesia, kesehatan tanah tidak dapat dipandang sebelah mata. Tanah yang sehat merupakan kunci keberhasilan sektor pertanian. Oleh karena itu, PT Pramudita Darya Parma sebagai produsen Pupuk Hayati Dinosaurus terus berupaya mengembangkan kualitas produk dan menjaga kepercayaan pelanggan di Indonesia.
Pupuk Hayati Dinosaurus terbukti efektif memperbaiki kondisi tanah pertanian yang mengalami penurunan kualitas atau degradasi. Di Indonesia, luas lahan yang terdegradasi diperkirakan mencapai lebih dari 40 juta hektar. Kondisi tanah yang rusak ini menyulitkan petani dalam menghasilkan panen yang stabil, yang merupakan prasyarat penting untuk mencapai kedaulatan pangan.
Dalam perhelatan Inagritech 2026, Pupuk Hayati Dinosaurus dihadirkan sebagai solusi terhadap permasalahan degradasi tanah pertanian di Indonesia. “Kami berharap semakin banyak praktisi pertanian yang dapat memanfaatkan bioteknologi untuk memperbaiki ekosistem tanah dan meningkatkan kualitas hasil panen demi menuju kedaulatan pangan Indonesia,” harap Freddy.
Pada tahun 2026, PT Pramudita Darya Parma juga telah meluncurkan produk pupuk yang diformulasikan khusus untuk hydroseeding. Teknik penanaman ini ditujukan untuk rehabilitasi lahan kritis, terutama di daerah lereng. Pengembangan produk berbasis bioteknologi ini terus dilakukan demi mendukung terciptanya pertanian yang sehat dan berkelanjutan di Indonesia.
Ikuti Detak Media

Masuk dengan Google untuk ikut berkomentar.