— JAKARTA – Sektor manufaktur Indonesia menunjukkan tanda-tanda pemulihan dengan Purchasing Managers’ Index (PMI) Manufaktur Juli 2026 yang kembali memasuki zona ekspansi. Angka PMI tercatat di level 50,2, meningkat signifikan dari 46,9 pada bulan Juni. Kenaikan ini menandakan aktivitas dunia usaha mulai bergerak positif setelah beberapa bulan berada dalam fase kontraksi.

Direktur Eksekutif Institute for Development of Economics and Finance (Indef) Esther Sri Astuti menilai kembalinya PMI di atas angka 50 sebagai sinyal positif. Namun, ia mengingatkan bahwa ekspansi yang terjadi masih tergolong tipis karena kenaikannya tidak terlalu jauh dari batas netral.

Senada, Direktur Eksekutif Center of Reform on Economics (Core) Indonesia Mohammad Faisal menambahkan bahwa pergerakan PMI manufaktur masih menunjukkan pola yang fluktuatif. Ia menyatakan bahwa peningkatan yang terjadi lebih banyak didorong oleh permintaan domestik, sementara permintaan ekspor masih menghadapi tekanan.

Wakil Ketua Umum Kamar Dagang dan Industri (Kadin) Indonesia Bidang Perindustrian Saleh Husin menekankan pentingnya konsistensi ekspansi dalam beberapa bulan ke depan. Dukungan dari indikator lain seperti pertumbuhan output industri, utilisasi kapasitas produksi, dan investasi sangat diperlukan agar pemulihan sektor manufaktur dapat dinilai berkelanjutan. Dibandingkan negara-negara ASEAN lainnya, posisi Indonesia menunjukkan perbaikan, namun laju ekspansinya masih moderat.

Pelaku usaha diperkirakan akan mencermati keberlanjutan tren permintaan sebelum memutuskan untuk ekspansi kapasitas atau investasi baru. “Oleh karena itu, diperlukan rangkaian data PMI dan indikator ekonomi lainnya untuk memastikan bahwa pemulihan benar-benar berkelanjutan,” kata Saleh.

Faktor Pendorong dan Penghambat

Peningkatan PMI manufaktur Juli 2026 terutama didorong oleh membaiknya aktivitas produksi industri. “Setelah mengalami penurunan selama beberapa bulan berturut-turut, volume produksi mulai kembali meningkat seiring adanya perbaikan permintaan,” jelas Esther.

Selain produksi, stabilnya pesanan baru, terutama dari pasar domestik, turut mendorong perbaikan PMI. Peningkatan proyek baru serta membaiknya kepercayaan konsumen dan pelaku usaha memberikan ruang bagi industri untuk meningkatkan aktivitas produksinya. “Permintaan domestik mulai memberikan ruang bagi industri untuk meningkatkan produksi. Ini penting karena selama periode kontraksi sebelumnya tekanan terbesar berasal dari melemahnya order baru,” ujar Esther.

Faisal melihat bahwa perbaikan PMI Juli terutama ditopang oleh meningkatnya permintaan domestik, sementara permintaan ekspor masih menghadapi tekanan. Hal ini menunjukkan pemulihan sektor manufaktur belum terjadi secara merata. Industri yang bergantung pada pasar global masih harus menghadapi ketidakpastian akibat melemahnya ekonomi sejumlah negara mitra dagang utama.

Tekanan biaya input masih menjadi perhatian bagi pelaku industri. Meskipun laju kenaikan biaya produksi mulai melandai, harga bahan baku tetap berada pada level tinggi. “Input masih terlihat mahal walaupun tekanan kenaikannya sudah mulai mereda. Tetapi ada ekspektasi optimisme dari pelanggan sehingga permintaan domestik mulai bergerak,” jelas Faisal.

Esther menambahkan, tingginya biaya bahan baku masih membebani pelaku usaha dan dapat menekan margin industri, membuat perusahaan menahan ekspansi. Tantangan lain datang dari sisi eksternal, yaitu lemahnya permintaan global akibat perlambatan ekonomi dunia dan ketidakpastian geopolitik.

Kepercayaan Pelaku Usaha Naik

Survei S&P Global menunjukkan tingkat optimisme pelaku usaha terhadap kondisi bisnis dalam 12 bulan ke depan meningkat ke level tertinggi dalam enam bulan terakhir. Tekanan kenaikan harga bahan baku juga melambat ke level terendah dalam empat bulan terakhir.

Juru Bicara Kementerian Perindustrian (Kemenperin) Febri Hendri Antoni Arif mengatakan, kenaikan PMI mencerminkan peningkatan aktivitas produksi, stabilisasi pesanan baru, dan mulai tumbuhnya kembali penyerapan tenaga kerja. “Peningkatan PMI juga mencerminkan membaiknya kepercayaan pelaku usaha terhadap prospek industri nasional,” katanya.

Febri menambahkan, pemulihan manufaktur didukung oleh sejumlah kebijakan pemerintah. Salah satunya adalah kepastian kebijakan Harga Gas Bumi Tertentu (HGBT) yang membantu industri pengguna gas dalam menjaga efisiensi biaya produksi. Kebijakan ini memberikan dampak positif bagi industri vital seperti pupuk, petrokimia, keramik, kaca, baja, sarung tangan karet, dan oleokimia.

Selain HGBT, pemerintah juga mendorong relaksasi bea masuk bahan baku plastik yang bermanfaat bagi industri hilir seperti kemasan, makanan-minuman, otomotif, dan elektronika. Kebijakan ini diharapkan mampu menekan biaya input industri yang mengalami tekanan akibat kenaikan harga bahan baku dan volatilitas nilai tukar.

Menjaga Momentum

Esther menilai pemerintah perlu menjaga momentum pemulihan dengan memperkuat daya saing sektor manufaktur melalui perbaikan rantai pasok, efisiensi biaya produksi, serta peningkatan akses pasar ekspor. “Jangan sampai kenaikan PMI ini hanya menjadi pemulihan sementara. Pemerintah perlu memastikan industri memiliki fondasi yang kuat agar ekspansi dapat berlanjut,” tegasnya.

Faisal mengingatkan agar pemerintah dan pelaku industri tidak terlalu cepat menyimpulkan bahwa sektor manufaktur sudah berada dalam tren pemulihan berkelanjutan. Lemahnya permintaan ekspor dan belum stabilnya daya beli masyarakat membuat industri masih rentan kembali mengalami perlambatan apabila terjadi tekanan ekonomi baru. “Kondisi ini belum terlalu kuat sinyalnya karena masih bisa melemah lagi. Kekuatan dari sisi permintaan domestik juga belum terlalu stabil,” ujarnya.