Detak Media — Lima desainer dan brand fashion memamerkan koleksi busana kontemporer mereka dalam BRI JF3 Fashion Festival 2026 yang digelar di Summarecon Kelapa Gading, Jakarta. Mereka adalah Aldrie, Andrean NR, Dacia, Saul Studio, dan Toja House, yang terpilih melalui program PINTU Incubator 2026.
Aldrie menghadirkan koleksi bertema “Roach Me, Roach Me Not”, yang mengeksplorasi ketakutan pada kecoa menjadi sebuah desain kontemporer. Ia menantang busana pria konvensional melalui jaket yang lebih pendek, pakaian luar yang dipersingkat, garis pinggang yang lebih tinggi, serta potongan berukuran besar. Aldrie juga memanfaatkan limbah plastik daur ulang dan sisa kain dalam karyanya.
Andrean NR, dengan tema “Di Tengah Perjalanan”, memadukan warisan budaya Indonesia dan mode kontemporer. Koleksinya menampilkan desain genderless, teknik penjahitan modern, serta pengaruh streetwear. Terdapat enam tampilan busana pria yang memadukan denim premium, siluet busana formal, dan konstruksi terinspirasi busana kerja dengan siluet santai.
Desainer Dacia mempersembahkan koleksi “ORIGO S/S27”, yang terinspirasi dari akar budaya Bangka serta lanskap Pulau Bangka. Mengambil makna ‘asal’ atau ‘awal mula’, koleksi ini mengeksplorasi identitas melalui keterikatan dengan sebuah tempat. Inspirasi datang dari garis pantai granit, lanskap bernuansa bumi, palet warna alami, serta keindahan kerajinan Kain Cual. “Koleksi ini menafsirkan kembali berbagai elemen tersebut melalui streetwear kontemporer yang merupakan bahasa desain khas Phoebe, dengan menghadirkan siluet modern yang berani, ekspresif, serbaguna, dan relevan untuk dikenakan dalam kehidupan sehari-hari,” kata Dacia.
Koleksi Dacia, ORIGO S/S27, akan menjadi koleksi pertama yang dipasarkan secara komersial. Setelah debutnya di JF3 Fashion Festival 2026, koleksi ini akan tersedia di LAKON Store pada akhir 2026 atau awal 2027.
Toja House menampilkan koleksi bertema “DVARA”. Setiap karya dibuat dengan tangan, meliputi rajutan permadani, tenun tablet dalam tradisi Palawa dari Mamasa, Sulawesi Barat, dan jalinan Kumihimo, yang dikembangkan melalui kolaborasi erat dengan pengrajin Indonesia. Siluet persegi panjang yang struktural, bentuk bahu yang memanjang, dan bentuk ember silinder menerjemahkan bahasa arsitektur ke dalam tekstil yang dapat dikenakan.
Saul Studio lewat koleksi “The Next Chapter” merayakan perempuan yang terus bertumbuh. “Ini adalah tentang keberanian melangkah menuju mimpi yang lebih besar, dan percaya bahwa setiap akhir selalu membawa awal yang baru. Karena setiap perempuan, seperti setiap brand, selalu memiliki bab berikutnya untuk ditulis,” kata Saul.
Pintu untuk Terus Bertumbuh
PINTU Incubator adalah inisiatif bersama JF3, LAKON Indonesia, dan Kedutaan Besar Prancis di Indonesia melalui Institut français d’Indonésie (IFI). Sejak diluncurkan pada 2022, program ini telah menarik minat lebih dari 10.000 brand dan desainer.
Pada 2026, PINTU Incubator menerima 39 pendaftar. Setelah melalui proses seleksi, sepuluh peserta mengikuti program inkubasi dan lima di antaranya terpilih untuk mempresentasikan koleksi di JF3 Fashion Festival 2026. Program ini dibangun berdasarkan keyakinan bahwa talenta mode memerlukan lebih dari sekadar kreativitas, tetapi juga ruang untuk belajar, memahami proses, memperluas sudut pandang, serta menemukan arah yang relevan bagi perkembangan karya dan brand mereka.
Thresia Mareta, Co-Initiator PINTU Incubator dan Founder LAKON Indonesia, menjelaskan bahwa PINTU bertujuan membantu peserta memahami perjalanan dan pilihan masing-masing. “Kami percaya bahwa talenta tidak selalu tumbuh karena diberi lebih banyak jawaban. Sering kali, mereka justru berkembang ketika dipertemukan dengan pengalaman, sudut pandang, dan pertanyaan yang tepat. PINTU kami bangun sebagai ruang untuk menjalani proses itu—mengenali kekuatan, melihat kembali apa yang belum bekerja, dan memahami ke mana sebuah karya ingin dibawa. Karena pada akhirnya, yang kami harapkan bukan hanya lahirnya koleksi yang baik, tetapi pelaku mode yang mampu terus bertumbuh dan menentukan langkahnya sendiri,” ujar Thresia Mareta.
Chairman JF3 Fashion Festival sekaligus Co-Initiator PINTU Incubator, Soegianto Nagaria, menekankan pentingnya ekosistem yang konsisten mendukung pertumbuhan pelaku mode. “Sejak awal, JF3 tidak hanya ingin menyediakan panggung, tetapi juga menjadi bagian dari proses pertumbuhan para pelaku industri. Melalui PINTU, kami membangun ruang yang mempertemukan talenta dengan pengetahuan, mentor, jejaring, pengalaman profesional, dan peluang kolaborasi. Kami percaya bahwa ekosistem yang kuat harus mampu mendampingi mereka untuk terus berkembang dalam jangka panjang,” ujar Soegianto Nagaria.
Membangun Pondasi Talenta Mode
Pada 2026, PINTU Incubator menghadirkan 39 sesi pengembangan kapasitas yang mencakup strategi bisnis, merchandising, pengembangan produk, komunikasi, hukum dan kekayaan intelektual, ekspor-impor, keuangan, serta styling. Program ini melibatkan 18 mentor dari Indonesia dan Prancis dengan berbagai latar belakang, termasuk desain, bisnis, ritel, hukum, keuangan, komunikasi, pemasaran, pengembangan produk, dan industri kreatif.
Setelah melalui rangkaian kelas, mentoring, evaluasi, dan kurasi, lima peserta terpilih untuk mempresentasikan koleksi mereka di JF3 Fashion Festival 2026. Kelimanya menghadirkan pendekatan yang beragam, mulai dari eksplorasi konstruksi dan tailoring, pengembangan aksesori bersama artisan, reinterpretasi tekstil Nusantara, pendekatan genderless, praktik upcycling, hingga pengembangan produk yang menekankan craftsmanship, inklusivitas, dan tanggung jawab dalam proses produksi.
Ikuti Detak Media

Masuk dengan Google untuk ikut berkomentar.