Detak Media — JAKARTA – Desainer dari Indonesia dan Prancis berkolaborasi dalam menciptakan karya mode inovatif yang dipamerkan di BRI JF3 Fashion Festival 2026 di Summarecon Mal Kelapa Gading, Jakarta. Pameran ini menampilkan peleburan ide dan keahlian dari kedua negara.
Thresia Mareta, Co-Initiator PINTU Incubator dan Founder LAKON Indonesia, menjelaskan bahwa karya-karya tersebut merupakan hasil dari program PINTU Residency, bagian dari PINTU Incubator. “Memasuki tahun kelima, PINTU Incubator terus memperkuat kolaborasi mode Indonesia–Prancis melalui pengembangan talenta, pertukaran pengetahuan, kolaborasi kreatif, dan pengalaman lintas budaya,” ujar Thresia Mareta pada acara bertema Re-See French Designers x Residency.
Pada tahun 2026, kolaborasi ini diwujudkan melalui kerja sama antara merek Indonesia dan Prancis, partisipasi Lil Public dalam pertunjukan tahunan École Duperré di Paris, serta dua koleksi hasil PINTU Residency. Koleksi tersebut dikembangkan melalui riset dan kolaborasi dengan komunitas artisan di Lombok dan Mojokerto.
Karya “Garuda” Padukan Songket Lombok dan Penjahitan Barat
Salah satu karya yang dipamerkan adalah sebuah outer yang terbuat dari kain songket Lombok, hasil kolaborasi Mickaël Nana dari Prancis dengan Beatrice Angelica dari Indonesia. Bertema “Garuda”, outer bermotif ornamen khas Lombok di atas dasar kain coklat ini terinspirasi oleh lambang negara Indonesia, yang melambangkan kekuatan dan keterbukaan.
Mickaël Nana, desainer asal Senegal yang berkarir di Prancis, menuturkan, “Koleksi ini mengeksplorasi perpaduan antara warisan tekstil Indonesia dan penjahitan Barat dari tahun 1970-an dan 1980-an yang memberikan struktur arsitektural pada pakaian.”
Beatrice Angelica menceritakan pengalamannya bekerja sama dengan para perajin wanita di Lombok untuk memproduksi kain songket dan tenun. Proses ini melibatkan pemilihan benang, pemahaman proses pembuatan tenun, hingga pembuatan sketsa dan pemilihan desain bersama. Setelah fabric disetujui, dilanjutkan dengan produksi sampel sebelum akhirnya dijahit pada kain asli.
Tantangan utama dalam pengerjaan karya ini terletak pada produksi kain tenun yang memakan waktu lama. “Karena tenun songket itu lama banget ya bikinnya. Dan kita cuma ada waktu empat bulan dari awal sampai akhir. Jadi bener-bener kayak dikejar waktu untuk produksinya,” ungkap Beatrice.
Ia menambahkan, penggunaan pewarna alami (natural dye) juga menjadi tantangan karena warna bisa berbeda di setiap batch. Perbedaan hasil tenun antar pengrajin juga menjadi kesulitan untuk menciptakan koleksi yang konsisten. Beatrice juga mengakui bahwa peleburan budaya Indonesia dan Prancis menjadi selembar busana bukanlah hal mudah, terutama saat mengombinasikan tailoring khas Eropa dengan elemen Indonesia seperti jas beskap agar tercipta perpaduan yang mulus.
“Au Large” Gabungkan Budaya Maritim Prancis dan Batik Indonesia
Karya kolaborasi kedua adalah “Au Large”, hasil kerja desainer Prancis Lisa Rayar dan desainer Indonesia Gabriel Marcella dari Semarang. “Au Large” yang berarti ‘di lepas pantai’, mengeksplorasi budaya tekstil Asia melalui penelitian bahan, siluet pahatan, dan mode kontemporer.
Lisa Rayar mengungkapkan kekagumannya pada perbedaan budaya dan pandangan mode antara dirinya dan Gabriel, yang justru menjadi daya tarik untuk menciptakan sesuatu yang baru. “Hal ini juga menjadi tantangan tersendiri bagi saya, karena saya belum pernah membuat koleksi hasil kolaborasi dengan desainer lain sebelumnya. Jadi, ini adalah pengalaman yang cukup baru. Begitu pula dengan penggunaan batik, itu benar-benar hal baru bagi saya. Saya sangat menyukainya,” ujar Lisa Rayar.
Koleksi ini menampilkan 12 tampilan yang memadukan ciri khas pakaian kerja maritim Prancis dengan keahlian kerajinan tekstil Indonesia. Potongan terstruktur berpadu dengan draperi mengalir dan siluet oversized, menciptakan busana yang fungsional dan elegan. Elemen desain seperti tali-tali, kain yang mengalir seperti layar, serta konstruksi berlapis-lapis yang mengingatkan pada jaring ikan menjadi ciri khas koleksi ini.
Palet bahan yang digunakan meliputi batik buatan tangan, denim, katun, kain teknis ringan, rajutan rib, kain jas bergaris, jaring bersulam dengan motif terinspirasi tato pelaut Prancis, tekstil keemasan berkilau, serta kain transparan berwarna biru yang menangkap gerakan lautan.
Inovasi utama koleksi ini adalah penciptaan motif batik orisinal yang menggabungkan motif kotak-kotak/sarung yang terinspirasi tartan Indonesia dengan garis-garis maritim Prancis melalui teknik sablon batik. “Pola baru ini mencerminkan perpaduan dua identitas tekstil sekaligus mempertahankan keaslian keahlian kerajinan batik,” jelas Gabriel Marcella.
Gabriel Marcella menjelaskan bahwa motif batik Mojokerto yang dibuatnya terinspirasi dari batik Mojokerto yang banyak menggunakan warna putih, dengan motif lebih kotak-kotak dan garis-garis khas Prancis. “Filosofinya sedekah laut, melarung di laut. Untuk pemilihan warnanya juga lebih ke hijau dan biru, warna laut,” ungkap Gabriel.
Mendukung Fashion Berkelanjutan
Thresia menekankan bahwa para desainer diarahkan untuk memiliki tanggung jawab pada isu keberlanjutan. “Keberlanjutan menjadi inti dari proyek ini melalui kolaborasi eratnya dengan para perajin lokal dan pelestarian teknik tenun tradisional,” katanya.
Koleksi ini mendukung kerajinan tangan Indonesia dengan mengembangkan tekstil eksklusif yang ditenun tangan di Lombok menggunakan pewarna alami, mendorong pewarisan pengetahuan leluhur sekaligus menciptakan peluang baru bagi komunitas perajin.
Pada karya “Garuda”, Mickaël Nana dan Beatrice Angelica berusaha memanfaatkan sisa kain songket dan menempelkan sisa kain beludru menjadi pulau-pulau Indonesia. Sementara itu, Lisa Rayar dan Gabriel Marcella menggunakan sisa kain batik berbagai motif menjadi gantungan kunci atau aksesori tas.
Ikuti Detak Media

Masuk dengan Google untuk ikut berkomentar.