— Dua koki ternama, Chef Yongki Gunawan dan Chef Juna, menyerukan kepada generasi muda Indonesia, atau Generasi Z, untuk lebih mendalami dan menjaga resep-resep warisan kuliner nusantara. Ajakan ini dilontarkan demi memastikan kualitas dan cita rasa otentik masakan Indonesia tetap lestari.

“Untuk anak-anak muda yang bergerak di bidang kuliner, tolong dekatkan diri kalian dengan makanan Indonesia. Makanan Indonesia itu sangat penting. Kalau bukan kita yang menjaga, siapa lagi?” ujar Chef Yongki Gunawan di sela acara Grand Baking Demo WINCheez di Jakarta, Sabtu (1/8/2026). Ia prihatin melihat tren di media sosial di mana banyak konten kuliner yang dianggap menyesatkan.

Chef Yongki menyoroti maraknya konten di media sosial yang menampilkan pembuatan kue dengan klaim hasil luar biasa hanya dari sedikit bahan. “Saya mau bicara apa adanya. Di media sosial sekarang banyak konten yang bilang, ‘dengan tiga butir telur dan sedikit terigu bisa menghasilkan kue seperti bakery hotel’. Itu bohong. Tidak boleh seperti itu. Sering juga ada yang bilang, “Pakai ini, pakai itu,” tapi bahan sebenarnya tidak disebutkan. Itu sama saja membohongi masyarakat,” protes Chef Yongki.

Menurut Chef Yongki, konten yang tidak akurat dapat menyesatkan pemula yang baru belajar membuat kue. Jika hasil akhirnya tidak sesuai harapan, mereka bisa beranggapan bahwa itulah standar kue yang benar, padahal yang bermasalah adalah resepnya. “Akhirnya resep asli Indonesia bisa hilang. Jadi untuk anak-anak muda yang ingin membuat konten, ambillah resep-resep asli Indonesia,” pinta Chef Yongki.

Chef Yongki mengingatkan bahwa banyak kue tradisional Indonesia memiliki sejarah panjang yang terjalin dengan budaya lain, namun telah teradaptasi menjadi khas Indonesia. Ia mencontohkan kastengel, spiku Surabaya, dan klappertaart. “Banyak yang mengira itu kue Belanda. Padahal di Belanda tidak ada kelapa. Yang berkembang di Manado adalah adaptasi masyarakat Indonesia menggunakan kelapa pada masa kolonial. Belum lagi ada berbagai kue khas Manado lainnya yang unik. Itu luar biasa. Jadi, buatlah resep yang asli. Jangan dimurah-murahkan, jangan diganti-ganti hanya supaya terlihat mudah. Pertahankan resep aslinya. Jangan membohongi masyarakat. Saya merasa punya tanggung jawab moral untuk menyampaikan itu,” tegas Chef Yongki.

Menanggapi hal tersebut, Chef Juna menambahkan bahwa kue-kue Indonesia juga dapat diperkaya dengan tambahan keju untuk meningkatkan cita rasanya. “Jadi benar seperti kata Chef Yongki, sekarang keju bisa masuk ke makanan apa saja. Mungkin sampai mendoan pun kalau ada yang suka ya bisa saja,” ujar Chef Juna, yang juga merupakan brand ambassador Wincheez.

Chef Juna menjelaskan berbagai jenis keju dan kecocokannya dengan makanan Indonesia. Ia menyebutkan spreadable dan cheese sauce cocok untuk kue, kentang goreng, dan berbagai aplikasi lainnya. Untuk keju parut, ia menyarankan memilih yang tidak mudah putus agar hasil parutannya panjang dan lebih gurih. Sementara untuk keju panggang seperti pada kastengel, penting memilih yang tidak mudah gosong.

Nakim Hardja, Board of Director WINCheez, menambahkan bahwa keju dan cokelat merupakan dua kategori rasa yang paling diminati dalam industri bakery dan pastry. Ia melihat keju semakin mendominasi seiring dengan perkembangan ekonomi, perubahan zaman, dan peningkatan edukasi masyarakat.

“Dulu keju terkesan sebagai produk yang mahal atau eksklusif. Sekarang, keju justru sangat diminati dan sangat fleksibel. Artinya, keju bisa dipadukan dengan berbagai jenis masakan maupun kue Indonesia. Keju ini disukai oleh semua kalangan, mulai dari anak-anak, remaja, hingga orang dewasa,” kata Nakim.

Melalui acara Grand Baking Demo WINCheez yang berkolaborasi dengan Chef Juna dan Chef Yongki, Nakim berharap keju dapat mendorong terciptanya kreasi kue bernilai tambah. “Ke depan, WINCheez akan terus menghadirkan berbagai program yang mendukung pelaku industri, UMKM, maupun masyarakat untuk terus berinovasi dan berkembang bersama,” tutup Nakim.