Detak Media — Permintaan emas global pada tahun 2026 diproyeksikan relatif stabil dibandingkan tahun sebelumnya, mencapai 1.269 ton. Angka ini dilaporkan oleh World Gold Council (WGC) menyusul tren harga emas yang mengalami pelandaian setelah mencapai rekor pada awal tahun.
Laporan Gold Demand Trends Q2 2026 dari WGC mencatat bahwa permintaan emas global secara kumulatif pada semester pertama (H1) 2026 mengalami peningkatan sebesar 2% secara tahunan (y/y), mencapai sekitar 2.522 ton dengan nilai total US$ 380 miliar atau setara Rp 6,8 kuadriliun.
Senior Markets Analyst di WGC, Louise Street, menyatakan, “Tren kenaikan harga emas di awal tahun mulai melandai pada kuartal kedua dan memasuki fase konsolidasi usai terkoreksi dari rekor tertinggi. Meski demikian, pasar tetap disokong oleh fundamental yang kuat, menegaskan peran emas sebagai instrumen diversifikasi dan aset penyimpan nilai.”
Meskipun terjadi penurunan arus modal ke ETF emas akibat koreksi harga, Louise menjelaskan bahwa aksi beli konsisten dari bank sentral serta peningkatan investasi di luar bursa resmi berhasil mendorong total permintaan emas tumbuh 2% (y/y) sepanjang semester pertama.
WGC membeberkan bahwa investasi pada ETF emas, emas batangan, dan koin turun menjadi 262 ton pada kuartal kedua 2026. Penurunan harga emas pada periode ini meredam tren permintaan tinggi yang terlihat di awal tahun, terutama dipicu oleh arus dana keluar (outflow) sebesar 45 ton dari ETF emas fisik.
“Meski demikian, permintaan ETF sepanjang semester pertama mencatatkan arus masuk bersih sebesar 18 ton. Sementara itu, investasi emas batangan dan koin relatif stabil dengan penurunan hanya 3% secara tahunan,” tambah WGC dalam laporannya.
Secara kumulatif, permintaan emas global pada semester pertama 2026 menunjukkan peningkatan 21% dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya, didukung oleh kinerja kuat pada kuartal pertama.
Bank-bank sentral global dan institusi lainnya tercatat meningkatkan cadangan emas bersih sebesar 289 ton pada kuartal kedua 2026, menandai kenaikan signifikan sebesar 62% (y/y). Meskipun pembelian menguat pada periode tersebut, WGC menambahkan, permintaan emas sepanjang paruh pertama tahun ini masih berada di bawah tingginya permintaan dalam beberapa tahun terakhir akibat melemahnya pembelian di kuartal pertama.
Louise Street memprediksi, “Memasuki paruh kedua 2026, investasi diperkirakan menjadi pendorong utama permintaan emas, meski komposisinya berpotensi bergeser. Aktivitas di luar bursa resmi dan minat investor Asia diprediksi makin dominan. Sementara itu, ETF emas di pasar Barat akan lebih dipengaruhi oleh imbal hasil riil, ekspektasi kebijakan moneter AS, serta pergerakan dolar AS. Bank sentral diperkirakan tetap aktif membeli emas, meski dengan laju yang sedikit melambat dibandingkan dengan empat tahun terakhir.”
Pasokan Emas Global di 2026
Louise Street juga mengemukakan, “Di sisi lain, tingginya harga emas akan terus menekan volume permintaan emas perhiasan. Namun, konsumen cenderung menahan kepemilikan mereka alih-alih menjualnya, sehingga pasokan dari daur ulang diprediksi tidak akan melonjak signifikan.”
Total pasokan emas global pada kuartal kedua 2026 tercatat stabil di angka 1.269 ton dibandingkan dengan periode yang sama tahun lalu. Kondisi ini didorong oleh dinamika yang berlawanan antara produksi tambang dan daur ulang.
Produksi tambang emas diperkirakan naik 2% (y/y) menjadi 966 ton, berkat tambahan pasokan dari Kanada dan Chile. Sebaliknya, pasokan dari hasil daur ulang justru merosot 6% (y/y) di tengah harga emas yang masih tinggi.
Ikuti Detak Media

Masuk dengan Google untuk ikut berkomentar.